Sebuah peristiwa sering melahirkan banyak ide. Bagi musisi, sebuah kejadian yang dialami sendiri atau yang mereka lihat dan dengar kadang melahirkan karya yang apik. Sejumlah musisi tanah air yang “menangkap” peristiwa kemudian dijadikan lirik lagu, salah satunya Iwan Fals. Sebagai mantan pengamen jalanan, yang kerap  berhadapan dengan realitas langsung, Iwan  banyak mendapatkan inspirasi dari hal tersebut. Masing ingat lagu sore tugu pancoran ? Menurut Iwan Fals, ini terinspirasi saat dia (yang saat itu ngamen) melihat seorang anak kecil yang berdagang koran di sekitar tugu pancoran.  Iwan Fals juga berhasil menangkap tragedi atau musibah kereta api di kawasan Bintaro tahun 1987, yang kemudian menjadi lagu “1910” yang berarti tanggal 19 bulan 10 (oktober) saat terjadinya bencana itu.

Saat perhatian dunia terpusat pada Ethiopia yang mengalami kelaparan tahun 1984, Iwan Fals juga berhasil menyuguhkan lagu ” Ethiopia” sekaligus menjadi titel album  yang dibesut bersama dengan Ian Antono”. Selain tentang bencana, Iwan fals juga berhasil menghadirkan protes berbagai ketimpangan pembangunan dan jalannya pemerintahan yang korup.

Selain Iwan Fals juga ada  band legend, GodBless, yang melantunkan lagu Prahara Timur Tengah dan “Maret 1989”. God Bless yang lebih banyak membawakan lagu berunsur rock mengaku  banyak mendapat ide penulisan dari beragam peristiwa yang terjadi di tanah air. Simak saja lagu-lagu mereka (beberapa diantaranya menjadi hits) banyak mengangkat dari tragedi di dalam dan luar negeri, misalkan “Bis Kota”, “Tuan Tanah”, “Rumah Kita”, “Selamat Pagi Indonesia,” dan masih  banyak lagi.

Iwan Fals dan Godbless hanya contoh dari sekian banyak musisi yang mengambil ide penulisan lagu dari peristiwa atau tregedi yang berseliweran disekeliling kita.  Yang pasti bagi seniman  atau musisi yang kreatif, segala momentum  yang dia alami menjadi inspirasi untuk berkarya. Dus, sama halnya dengan penulis lagu dan musisi yang pandai mencipta lagu cinta dan menjadi hits.  Sejumlah point yang bisa disodorkan dengan fakta ini adalah ;

Pertama, kedekatan (Approximity), penulis dengan peristiwa. Apakah dialami sendiri atau dari membaca, mendengar atau melihat. Tentu saja kedekatan saat mengalami peritiswa sendiri berbeda dengan hanya mendengar atau melihat. Kedekatan seorang musisi dengan peristiwa memang bisa melahirkan banyak ide untuk menulis lagu. Simak saja, kedekatan musisi ketika pilpres 2014 kemarin, melahirkan banyak ide untuk membuat lagu, salah satunya yang dilakukan para musisi slank yang mencipta  lagu “salam dua jari”.

Kedua, Imajinasi (imagination). Seorang musisi atau penulis lagu harus bisa berimaginasi untuk bisa menghadirkan peristiwa kedalam teks atau lirik yang dibuatnya. Tidak hanya itu, penggarapan musik yang mengiringi lagu juga bisa lebih mantaps.  Saya menyukai lagu Jamrud, band asal Cimahi itu. Pengalaman dan imaginasi disatukan dalam lirik lagu yang kemudian diolah menjadi kesatuan berikut musik yang mengiringinya, misalkan dalam “Ningrat”, “Waktuku Mandi”, “asal  british” dan lain sebagainya. Mereka membawakan  Rock menjadi musik yang ringan dan malah bisa membuat banyak orang tersenyum. Beat-beat rock dimainkan bersamaan dengan irama slow dan kadang ska yang ringan.

Ketiga, Pengalaman (Experience). Untuk kategori ini banyak dihasilkan oleh musisi atau penulis lagu yang mengalami sendiri peristiwa sendiri. Misalkan tentang tragedi percintaan, kebohongan, dan lain sebagainya.

Sudah pasti, banyak moment berharga yang bisa dijadikan bahan dasar untuk menulis lagu. Perjalanan waktu selama 24 jam dari musisi atau penulis lagu pasti ada yang bisa dijadikan bahan menulis, dengan catatan sang penulis lagu atau musisi jeli atau Peka.

 

tebet, 13 juli 2014