Source: Harian Kompas, Rabu, 12 Mei 2010 | 03:11 WIB

malaysiakini1Tepat 10 tahun yang lalu, Steven Gan mendirikan Malaysiakini.com dengan sedikit keraguan. Keraguannya berkisar soal seberapa lama portal berita itu bertahan hidup, baik secara sosial-politis maupun ekonomi.

Maklum, ketika itu rezim Mahathir Mohamad mengontrol pers dengan ketat. Karena itu, pers yang memberitakan fakta dengan apa adanya, termasuk suara-suara kritis terhadap pemerintah seperti Malaysiakini.com (selanjutnya disebut Malaysiakini), layak berdebar-debar.

”Tetapi, waktu itu kami jalan terus,” ujar Gan saat tampil sebagai pembicara dalam diskusi ”Media Pioneers, Changing the Way People Get News and Shape Views”, pekan lalu di kampus Universitas Hongkong. Diskusi soal media-media pionir ini menjadi agenda menarik Konferensi Media Internasional di Universitas Hongkong.

Alasan utama Gan untuk tidak melangkah mundur adalah keyakinannya bahwa membuat portal berita internet adalah salah satu solusi bagi jurnalis untuk menghindari sensor, baik dari eksternal media, termasuk pemerintah, maupun sensor dari internal awak media sendiri (self censorship).

”Banyak wartawan di Malaysia mengeluhkan self censorship yang ketat di media mereka. Sering terjadi, jurnalis heran dengan beritanya di koran, yang sudah jauh berbeda dengan aslinya. Itulah salah satu keunikan Malaysia. Negara kami rutin mengadakan pemilu setiap empat tahun, salah satu simbol demokrasi. Tetapi, rezim bersikap tidak demokratis dengan mengontrol pemberitaan surat kabar, radio, dan televisi,” kata Gan.

Perjuangan Steven Gan mengoperasikan Malaysiakini ibarat kisah pengelana yang menjalani medan terjal dan sarat tanjakan. Tahun-tahun pertama, layaknya sebuah media baru, jumlah pengakses sangat sedikit. Sudah yang baca sedikit, kemunculan Malaysiakini yang kritis terhadap pemerintah kerap menjadi sasaran pendiskreditan rezim Mahathir (waktu itu).

Namun, serupa dengan kelahiran tabloid Detik pada era Soeharto di Indonesia, Malaysiakini secara perlahan makin banyak diminati publik. Tak heran, banyak perusahaan swasta pun mulai antre untuk pasang iklan. ”Kami mulai optimistis media ini bisa berlanjut, salah satunya dari penghasilan iklan,” tutur Gan.

Celakanya, upaya rezim menghalangi gerak Malaysiakini seolah tanpa henti. Pemerintah Mahathir meminta, atau tepatnya mendesak, agar perusahaan pengiklan di Malaysiakini segera menghentikan pemasangan iklan itu. Singkat kata, Pemerintah Malaysia berusaha memenggal hidup Malaysiakini, dengan memutus penghasilan dari iklan. ”Kami sempat putus harapan dan seakan bakal segera mati karena tidak ada lagi uang masuk,” kata Gan.

Mandiri secara ekonomi

Namun, manajemen Malaysiakini lantas menemukan solusi jitu untuk terus menghidupkan situs berita itu, yakni dengan memungut fee bagi para pengakses. Fee itu ditetapkan sebesar 6 dollar AS atau setara dengan Rp 54.000 per bulan.

”Di internal Malaysiakini sendiri juga muncul debat panjang soal patut-tidaknya kami memungut fee dari para pengakses atau pelanggan. Tetapi, dari hari ke hari saya sadari, media yang independen memang harus mandiri secara ekonomi. Dan independensi itu salah satunya bisa diraih dengan fee pengakses ini,” kata Gan.

Seiring dengan bergulirnya waktu, Malaysiakini terus bertahan hingga karier Mahathir paripurna di pemerintahan. Penerusnya, Abdullah Ahmad Badawi, pun berusaha mematikan Malaysiakini dan gagal pula. Sikap Najib Razak, pengganti Badawi yang kini memimpin Malaysia, setali tiga uang. ”Sampai sekarang, opini bahwa kami ini media tidak kredibel terus didengungkan,” kata Steven Gan saat ditanya seusai diskusi itu.

Secara ekonomi, dewasa ini Malaysiakini tergolong sehat, dengan 60 persen penghasilan berasal dari fee pelanggan dan 40 persen sisanya dari iklan. Kesehatan ekonomi itu tetap berbanding lurus dengan frekuensi pendiskreditan situs berita itu oleh pemerintah. ”Jadi, sehari-hari kami tetap harus siap dengan adanya pengaduan ke polisi secara tiba-tiba dan mendadak pula kantor kami diawasi atau diselidiki tanpa penyebab yang jelas,” kata Gan.

Beragam materi bahasan terselenggara dalam Konferensi Media Internasional, yang digelar bersama oleh East-West Center, serta Journalism and Media Studies Centre, Universitas Hongkong, itu. Konferensi yang dihadiri 300 jurnalis di kawasan Asia-Pasifik itu bertema ”Reporting New Realities”. Berbagai tema diramu, mulai dari urusan terorisme, lingkungan hidup, kelompok minoritas, hingga perjuangan media-media cetak bertahan hidup di tengah serbuan media internet.

Tentang isu terakhir ini, pernyataan Reginald Chua, Pemimpin Redaksi Harian South China Morning Post, Hongkong, layak dicermati. Chua mengungkapkan, persaingan dengan media internet, selain dengan radio dan televisi, tak terhindarkan. Yang bisa dilakukan adalah menyiasati kompetisi sehingga media cetak terus bertahan.

”Dengan demikian, strategi pemberitaan koran harus berubah. Berita kecelakaan lalu lintas, misalnya, karena faktanya sudah habis-habisan dikuras oleh radio, televisi, dan media online, pemberitaan di koran seharusnya sedikit berbeda,” ujar Chua, lulusan program Magister Jurnalisme di Columbia University, AS, itu.

Berita kecelakaan di koran, karena baru dibaca pembaca keesokan harinya, selayaknya ditulis lebih dalam. Misalnya, dengan mengulas seberapa sering kecelakaan terjadi di ruas jalan itu atau di titik mana di jalan itu kecelakaan kerap terjadi dan merenggut korban jiwa.

”Jika selalu terjadi kecelakaan pada saat hujan, berita akan lebih menarik dengan adanya pesan soal pentingnya kewaspadaan pengguna jalan saat cuaca buruk. Tentu saja, dengan diperkuat data jumlah kecelakaan dalam enam bulan terakhir, misalnya. Dengan demikian, berita di koran bukan sekadar berita, tetapi bisa menjadi panduan bagi pembaca,” ujar Chua lagi.

Fenomena Malaysiakini dan South China Morning Post menunjukkan, betapa media massa, yang kerap disebut kekuatan keempat atau the fourth estate setelah trias politica, akan selalu menghadapi gempuran dari segala sisi. Gempuran itu ibarat selalu menjadi keniscayaan.

Selain gempuran dari ketatnya persaingan menghadapi media lain, masih ada kemungkinan tekanan atau intervensi segala rupa dari eksternal, apakah itu pemerintah atau pihak lain. Hanya media yang mampu berinovasi yang bisa bertahan. Inovasi yang tak kalah penting adalah dari sisi manajerial perusahaan media. Itu wajib dilakukan karena, menurut Steven Gan, media yang independen haruslah media yang mandiri secara keuangan. [ADI PRINANTYO/Kompas]