Di dunia musik, siapa yang tidak kenal dengan Rolling Stones? Bisa dibilang hampir semua orang mengenalnya. Kisah legendaries band rock n roll terukir sejak band ini berdiri (1963) hingga saat ini. Hal itu disebabkan, dalam rentang waktu itu, kreativitas dan produktivitas secara totalitas dilakukan band ini. Maka, tidak mengherankan apabila fans loyal band ini juga terus meregenerasi sampai sekarang.

Dibalik kesuksesan The Rolling Stones, dengan musiknya yang simple, liriknya yang mudah dan atraksi panggungnya yang “heboh”, ada faktor lain yang menunjang totalitas band asal Inggris ini dalam berkarya, faktor itu adalah kemasan merek (branding) band ini mulai dari logo hingga desain cover album. Soal logo misalnya, pentolan band ini Mick Jagger tidak segan-segan mendatangi langsung akademi seni, Royal College of Art di London. Di sana ia menemui seorang mahasiswa, John Pasche, yang akhirnya dipilih sebagai perancang logo ”lidah terjulur-nya” Rolling Stones.

Perhatian Mick Jagger juga dicurahkan terhadap aspek seni grafis dalam kemasan setiap albumnya. Cover album band ini bisa dibilang sangat kreatif, mulai dari visualisasi, hingga komposisi gambar/foto (image).

Misalnya album Rolling Stones bertitel “Their Satanic Majesties Request” karya fotografer Michael Cooper. Dengan arahan dan diskusi bersama Mick Jagger, Michael Cooper menyambut ide sederhana menjadi sebuah tampilan tiga dimensi (3D) yang eksklusif. Personel Rolling Stones ; Mick Jagger (lead and backing vocals), Keith Richards (guitars, backing vocals), Brian Jones (percussion, organ, flute), Charlie Watts (drums, percussion) dan Bill Wyman (bass, percussion, backing vocals) didandani seperti keluarga bangsawan. Dengan kemegahan latar belakang dalam album itu dengan ornamen planet, dan sebuah miniature castil beraneka warna menjadikan cover album ini unik dan sangat layak untuk dikoleksi. Belum lagi dibagian dalam, sebuah karikatur artistic Dengan komposisi warna dan tata letak yang apik disuguhkan DECA Record, label yang menaungi Rolling Stones. Akibat keunikan ini, tidak sedikit penggila desain mengoleksi album lantaran mengandung seni artistic yang sangat tinggi dan langka.

Desain cover Rolling Stones yang tidak kalah keren ada di album Banquet Beggar. Seorang Art Director peraih Grammy Award, Tom Wilkes, berupaya menyederhanakan ide sesuai Dengan tema utama dalam album ini. Sesuatu hal yang biasa, ditangan dia menjadi luar biasa dan menjadi trend setter. Bagaimana mereka mengambil setting gambar di WC Dengan menjadikan tulisan “The Rolling Stones” tetap eye-cathing ditengah coretan dinding lainnya. Sang desainer Dengan sangat cerdas mengambil sebagian gambar/image closet yang kotor dan tidak terawat serta dipenuhi dengan coretan-coretan “tangan jahil”. Gambar menjadi sangat alami Dengan komposisi pipa air disampingnya beserta tisu yang sudah terlihat tidak bersih lagi.

Sang desainer berhasil menerapkan banyak unsur dalam sebuah karya desain grafis, mulai dari bayangan (shape), bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna. Hasil dari kombinasi ini menghasilkan sebuah keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi (“proportion”) dan kesatuan (unity). Inilah yang pada akhirnya membentuk aspek struktural komposisi yang membuat album ini layak dikoleksi.

Desain cover lain yang cukup menarik ada pada album “Exile on Main St” yang diluncurkan bulan mei 1972. Cover dibuat sengaja dengan warna “Hitam Putih” hanya tulisan “Rolling Stones, Exile in Main St” yang digores dengan warna kemerahan. Penempatan potongan foto-foto terkesan dibuat asal-asalan, namun jangan salah, sang desainer sudah memikirkan dengan masak komposisi ini. Meski ukuran foto tidak seimbang, desainer berhasil mengaturnya dengan sempurna, sehingga apabila orang melihat sekilas desain cover ini, akan penasaran, ingin melihatnya lebih dalam lagi dan berupaya ”menterjemahkan” isi dari album ini.

Sebuah majalah desain yang cukup credible “smashing magazine” malah menobatkan cover The Rolling Stones untuk album “Forty Licks” termasuk ide cover yang kreatif. Jika sepintas dilihat sangat sederhana. Icon Rolling Stones ”lidah menjulur” ditampilkan dominan memenuhi ruang (space) desain. Namun orang pasti akan ”ngeh” bahwa ini memang Rolling Stones, namun yang membuat menarik adalah permainan warna yang dibuat dengan baik dan eye-cathing. Kombinasi warna ditempatkan dengan sangat baik. Ekspresi dan tanda 40 tahun band ini berkarya diwujudkan dalam angka ”40” yang menempel pada lidah icon mereka. Sungguh sebuah karya yang menarik.

Adagium, musik sebagai sebuah seni akan bernilai tinggi jika dikemas dalam kemasanya yang utuh dan dibuat dengan ide serta semangat berkesenian yang baik dilakukan secara sempurna oleh Rolling Stones.

Musik, sebagai sebuah karya seni, bukan hanya dihargai dari suara dan nada yang dihasilkan didalamnya, namun juga dari seni “mengemas” (packaging) agar pesan yang ada dalam deretan lagu sampai ke penggemar. Bila musik yang dihasilkan baik seperti yang selama ini dikaryakan oleh super group The Rolling Stones, akan menjadi sempurna dengan pembuatan desain cover yang memikat. Mungkin ada sebagian yang hanya tahu sedikit dari karya Rolling Stones, namun begitu melihat desain covernya yang ciamik, mereka dengan senang hati untuk membelinya. Tidak salah jika Editor media desain, Smashing Mag, mengatakan ; “Music and art go hand in hand. And the best way to get a potential buyers’ attention is with an eye catching album cover. We all know you can’t just judge a book by it’s cover but it doesn’t hurt to give a CD a spin based off a sexy piece of art.”

Musisi tanah air setidaknya harus belajar dari bagaimana The Rolling Stones mengemas musik secara keseluruhan (totalitas). Mulai dari lagu yang dihasilkan, penampilan kru diatas panggung, manajemen band, hingga pengemasan album (desain cover ) yang dihasilkan. Musik dan grafis, sebagai hasil karya seni, bila dipadu akan menjadi kekuatan dan inilah wujud totalitas dalam berkesenian

Sutono R Lysthano
Penikmat Musik Rolling Stones

artikel pernah dimuat di majalah Sound Up, edisi Agustus 2011