Dalam satu tahun terakhir, panggung musik Indonesia telah kehilangan sejumlah musisi, dan penyanyi berkualitas. Diantara mereka yang pergi keharibaan Sang Maha Pencipta adalah Ilham (bassist  Funky Kopral), Kris Biantoro, Ricky Jo (Emerald band), A. Rafiq (penyanyi dangdut), dan Pungky Deaz (Power Metal). Dalam tulisan yang singkat ini penulis ingin sekedar  mengulas, dan mungkin mengingatkan,  betapa kesibukan berkarya terkadang menjadikan masalah kesehatan menjadi terabaikan.

Sudah bukan menjadi rahasia umum, ketika seorang penyanyi/musisi  naik daun dan terkenal,  kesibukannya menjadi sangat luar biasa. Waktu yang tersedia, 24 Jam, seakan terasa kurang. Tidak hanya itu, bagi sebagian mereka waktu kadang menjadi terbalik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Istirahat juga menjadi “barang” yang sangat berarti. Terkesan aji mumpung? memang sekilas seperti itu, betapa popularitas yang sedang dialami sangat sayang untuk dilewatkan. Selain menyanyi dan menjalankan tugas “keartisannya”, mereka juga kadang mengambil job diluar karirnya seperti sebagai pemain film, presenter, hingga ada juga yang sering muncul diacara komedi.

Tentu saja, pada penyanyi/artis/musisi sangat paham, bahwa popularitas seseorang ada masanya. Makanya, ketika banyak tawaran “manggung” semuanya diambil, mereka sadar jika suatu saat nanti akan datang pesaing-pesaing baru yang akan menggantikan posisinya, dan mereka tidak terpakai lagi.  Seperti inilah kiranya salah satu “kepingan” dari wajah dunia hiburan di tanah air.

Totalitas berkarya seakan berjalan paralel dengan totalitas “mengeruk” fulus dari panggung dunia hiburan. Demi fulus, mereka menjadi rajin menenggak vitamin dan suplement penyegar tubuh agar  bisa tampil “vit dan fresh” di atas panggung. Tidak jarang juga, mereka sudah berani coba-coba dopping berupa obat terlarang atau narkoba.

Bila saja mereka “beruntung” mereka tidak tertangkap dari kejaran aparat, namun jika mereka sial, penjara menjadi tempat mampir sementara. Ada juga yang memaksa menggunakan, kemudian fly saat mengemudi kendaraan dan maut kemudian menjemputnya.

Ada juga berjalan “aman-aman” tanpa dopping dan obat-obatan, namun yang tergerus adalah tubuhnya. Biasanya ini  menjangkiti mereka yang memiliki pola makan yang berantakan. Selain, makanan yang dimakan kurang baik, waktu makannya pun terkadang  telat. Mereka yang  terbiasa merokok, dengan jadwal waktu yang padat mengakibatkan tekanan (stressing) menjadi sangat kuat, akhirnya jumlah batang rokok menjadi bertambah. Akumulasi inilah yang akhirnya menjadi “timbunan” penyakit dimasa tuanya.

Kasus musisi yang pada masa tuanya terserang penyakit, seperti kanker, serangan stroke dan lain sebagainya menjadi bertambah. Terkadang, sebetulnya karir mereka masih panjang, namun karena penyakit yang menggerogoti produktiviitas menjadi menurun drastis.

Bagi musisi, penyanyi atau mereka yang bergelut didunia hiburan (entertainment) dan memang mencintai bidangnya, seharusnya masalah kesehatan tidak boleh diabaikan. Mereka harus memegang teguh paradigma, dalam “tubuh yang sehat akan bisa terus berkarya”. Jika mereka melanggar, mereka seakan mendustai tekadnya menjadi musisi/penyanyi/artis yang mencintai pekerjaannya.

Dalam sebuah perhelatanya ke Jakarta, musisi musik blues John Mayall pernah meminta penonton konser “Jakarta Blues Festival” untuk tidak merokok, padahal seperti diketahui audiens musik mereka cenderung para perokok kelas berat. Kabarnya, dalam nota kesepakatannya dengan panitiya pengundang, dirinya akan stop konser jika diantara penonton kedapatan merokok.  Dan memang, dalam pengantarnya sebelum konser, Mayall bercerita jika dirinya, dari dahulu, mencintai hidup sehat. Tidak heran, jika dalam penampilan kakek berumur 72 tahun ini begitu enejik.

Bagi pecinta musik rock, belum lama juga dibuat kaget dengan penampilan band steelheart dalam ajang Java Rockinland dimana para personelnya yang berusia diatas 60 tahun, namun performa diatas panggung sangat enerjik. Mereka tampil menjelang pagi dan selama lebih dari 2 jam menghibur ribuan penggemarnya. Begitu juga dengan para personel band rock “Suicidal Tendencies”, yang dalam konsernya berdurasi lebih dari 2 jam, sang vokalis, Mike Muir, tidak berhenti bernyanyi. Dengan gayanya yang enerjik, selama waktu itu juga dia mondar-mandir bernyanyi, berteriak dan berjingkrak-jingkrakan.

Belum lama, band rock legendaris Metallica juga menjadi saksi betapa setelah 20 tahun tidah pernah tampil di Indonesia, kala itu mereka masih tampak gagah dan semangat, dan saat mereka waktu bulan lalu mereka masih tampak segar dan bugar. Salah satu rahasianya mereka gemar mengkonsumsi buah-buahan, istirahat cukup dan gemar berolah raga. Kabarnya, jelang perhelatan di Asia (Singapura dan Jakarta), mereka mampir ke Bali untuk Surfing.

Bila saja seorang musisi/penyanyi mencintai karirnya, maka pola hidup sehat menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena bukan hal yang mustahil, jika karir yang baik terlahir dari kondisi tubuh yang prima. Pikiran materialistis  dan aji mumpung sepertinya harus segera ditinggalkan bila ingin pencapaiannya maksimal dan berjangka panjang.

kalibata city – 2013