Sejak lebih dari 6 bulan lalu saya selalu menerima email pemberitahuan dan informasi dari First Media aka PT First Media, Tbk.  Dengan informasi yang diberikan melalui surat via pos, perusahaan tersebut  menyebutkan akan mengalihkan model tagihan via kertas ke email.   Setelah mendaftar via email dengan menyebutkan kode pelanggan, nantinya setiap bulannya  akan dikirimkan tagihan via email. Namun, sejak mendaftar via email,  saya menerima dengan metode keduanya, email dan surat via pos. Belum jelas, kapan kira akan total beralih. Atau mungkin data yang sudah meregistrasi via email belum rapi, sehingga terkirim secara dobel, hingga bulan lalu (mungkin juga bulan ini:))

Upaya mendukung program “go green be paperless” patut diacungi jempol, dan bisa dijadikan contoh oleh banyak perusahaan untuk melakukan hal ini. Namun yang masih mengganjal, apakah setiap pelanggan kini sudah melek internet semua. Yang dengan membuat email dan melakukan aktivasi, dan selalu ngeh ketika terima email sehingga informasi yang didapatkan bisa dibaca dan ditindaklanjuti. Pengalaman dua bulan lalu, tagihan Langganan saya malah sempat belum terbayar dan ditagih pada bulan berikutnya. Ternyata selidik punya selidik memang saya belum membayar, meski email sudah terkirim (saat itu saya tidak terima tagihan dalam bentuk kertas). Untungnya pihak FM tidak memutuskan sambungan TV langganan dan internet:) Jadilah saya terselamatkan. Beda dengan PLN atau PAM yang tidak bayar sebulan  sudah mendapatkan ancaman pemutusan… wuihhh galak ya mereka…

Untuk menggelontorkan program “Paperless” memang tidak mudah dan butuh proses. Kebiasaan masyarakat kita dengan yang real menjadi kebiasaan atau habit yang belum bisa dirubah.  Oleh karena itu kehadiran tagihan dalam bentuk kertas, bagi sebagian orang masih tetap dibutuhkan. Mendengar cerita seorang kawan, setiap bulannya beberapa tagihan (mungkin puluhan) mampir ke meja kerjanya dirumah. Dia secara khusus menyiapkan tempat surat yang diklasifikasikan dalam penting dan kurang penting ditindaklanjuti.  Ketika sudah kumpul semua, dia  pergi sendiri ke ATM dan membayarkan semua tagihan itu. Dia tidak perlu mengecek email yang setiap harinya ratusan mampir ke inbox emailnya. Ternyata dia punya pengalaman yang sama dengan saya perihal tagihan via email yang terlupa.

Nah, hari ini juga saya menerima email dari FM yang menginformasikan  bahwa majalah mereka, “View Mag” yang berisi jadwal acara TV “dimatikan” alias stop terbit.  Dengan  tema surat “Mendukung Program Lets Go Green Be Paperless” pihak perusahaan menutup majalah yang kala terbitnya dalam format yang luks. Bahkan konon sebagai majalah entertainment terbesar yang dibaca masyakarat? Ya, mereka terhitung September 2009 ini menutup secara resmi dan mempersilakan pelanggannya untuk melihat jadwal acara via web mereka atau langsung dengan mencari chanel EPG  yang disetting secara sentral dari kantor FM di kawasan Tangerang.

So, bagi saya ditiadakannya majalah tersebut tidak berpengaruh apa-apa, mungkin juga bagi pelanggan lain. Majalah yang diantar secara rutin setiap bulannya, kadang berbarengan dengan tagihan, terus terang jarang sekali dibuka. Jadi tidak heran, kadang majalah2 tersebut masih dalam bungkus plastik dan tersimpan rapi di rak majalah meja ruang baca. Majalah berisi berita film dan hiburan sekitar 60 halaman, selain terdapat jadwal acara TV juga ada berita tentang film, musik, fashion dan gaya hidup  lainnya. Sayang belum ada riset khusus tentang luasnya peredarannya diluar para pelanggan yang memang mendapatkan rutin setiap bulannya. Tidak hanya itu, riset keterbacaan majalah itu juga belum pernah digarap secara khusus. Sehingga, sang pengelola majalah tidak tau secara pasti apa yang menjadi ketertarikan konsumen atau pembaca terhadap majalah itu. Disinilah pentingnya riset pasar. Selain akan mengetahui profil dan segmen pembaca majalah, pengelola juga akan tau informasi seperti apa yang dibutuhkan dan dilahap oleh pembaca. Sepanjang pengamatan penulis (yang juga sebagai pelanggan) tidak banyak yang menarik dari majalah itu. Semua informasi yang disajikan sebetulnya bisa didapatkan dari internet. Review atau ulasan film contohnya, sebelum majalah itu terbit, orang sudah banyak tahu. Penulis hanya menikmati gambar2 di dalamnya, termasuk covernya yang “menarik” termasuk desainnya (kebetulan yang desain teman dikantor lama dulu):)

Lalu apakah keputusan perusahaan menutup majalah ini sebuah tindakan yang tepat? Dengan ulasan diatas, tidak ada alasan yang signfikan untuk mempertahankan eksistensi majalah ini. Dengan kata lain, jika divisi majalah  bukan  bagian dari Perusahaan sudah dipastikan akan mati lebih awal.  Bisa dikatakan, “Nyawa” majalah ini berasal dari bagian iuran pelanggan. Namun memang, dalam hitungan bisnis, jika ada bagian atau lini bisnis perusahaan yang kurang menguntungkan, buat apa dipertahankan.  Kita sama-sama paham ini jaman efisiensi, semua orang atau perusahaan “tiarap” takut kehabisan napas.

Nah, dengan berbagai alasan diatas, keputusan  tidak menerbitkan kembali majalah menjadi keputusan yang pas.

Model promosi acara2 film atau promosi lainnya bisa dilakukan dengan menggunakan medium yang lebih pas dan berjangkauan luas, misalkan internet. Atau dengan cara promosi  melalui pemasangan iklan2 dimedia massa besar di Indonesia, billboard atau model kampanye lainnya.  Silakan saja  dinilai efektifitas model ini dibanding dengan menerbitkan puluhan  ribu eksemplar majalah  dengan biaya cetak yang relatif mahal, apalagi dengan jangkauan terbatas.

Cukup disayangkan memang, jika penerbitan sekelas View Mag harus mengalami nasib media lain yang gulung tikar karena kurang “menguntungkan” atau dengan sebuah alasan Paperless.  Namun, karena sudah menjadi keputusan  perusahaan maka tidak bisa ada yang menghalanginya. Ah, semoga saja teman-teman  redaksi atau pengelola didalamnya tidak kuciwa  dengan keputusan ini dan segera mendapatkan kesibukan lain dalam perusahaan.

Lysthano.com
29 September 2009