Bila Anda coba melakukan riset kecil-kecilan dengan meminta  komentar tentang  acara TVRI, mungkin akan ada komposisi jawaban senada, Acaranya Jadul dan kurang modern. Nah, kebetulan hari ini jajaran manajemen TVRI berkomentar tentang acara yang mereka siarkan selama ini. Lihat link : http://www.detiknews.com/read/2010/08/20/223743/1424694/10/ogah-disebut-jadul-tvri-akan-live-dari-mal-ke-mal?991102605

Mereka mengakui bahwa sejumlah acara yang mereka bikin jaduls dan ketinggalan jaman. Oleh karena itu, manajemen mensiasati dengan acara live, yang disiarkan secara langsung dari tempat kejadian. Nah, yang menjadi langkah awal adalah dengan membuat acara live dari Mal-Ke-Mal.  Tidak hanya itu, mereka juga akan melakukan re-branding dengan produk-produk yang selama ini dihasilkan TVRI.  Pertanyaannya, apakah ini solusi untuk menciptakan citra baru televisi publik, yang kerap menjadi “corong” pemerintah dijaman orde baru.

Sepanjang pengamatan saya, acara TVRI kini secara perlahan sudah mengalami banyak perubahan. Sejumlah acara yang bersifat edukasi juga masih bisa saya saksikan. Terus terang, saya  termasuk orang yang jarang menonton TV. Namun, dalam sebuah kesempatan makan  (karena meja makan dekat dengan TV), saya kerap kali memantau pembereritaan/siaran TVRI. Entah kenapa saya selalu penasaran dengan acara2 TVRI yang dulu dijaman saya kecil menjadi tontonan wajib. Memang, saat ini  banyak acara-acara TVRI yang “diambil” oleh TV swasta lain dan dimodifikasi sehingga menjadi lebih menarik. Misalkan, siaran kuis, live musik, berita hingga acara siaran keagamaan.

Ditengah persaingan dunia pertelevisian tanah air, pemilih TV memang harus mensiasati agar acara-acara yang disiarkan menjadi lebih menarik.  Tujuannya jelas, untuk mendapatkan kue iklan dari para sponsor. Dengan alasan inilah, masing2 stasiun TV berlomba-lomba membuat acara yang kreatif, disamping  promosi acara yang giat disejumlah media masa. Tidak cukup itu, stasiun TV kini juga sedang  berupaya menjadi trendsetter acara yang ditayangkan. Misalkan untuk melihat HOT News, pikiran banyak orang langsung kepada dua buah TV Swasta, TV one dan Metro. Untuk sinetron lihatlah RCTI, untuk Dangdut  lihat TPI, untuk candatawa liat ANTV. Intinya semua berupaya “menancapkan” image dibenak masyarakat tentang acara unggulan. Stasiun TV juga  tidak segan-segan memasang iklan lewat BillBoard di banyak titik strategis untuk menyapa para pengguna jalan dengan acara andalannya yang mereka iklankan “wajib” ditonton.

Lalu bagaimana dengan TVRI? Kira-2 upaya rebranding seperti apa sehingga stasiun itu dilirik penonton dan pengiklan. Mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah dilakukan TV swasta, misalkan dengan membuat sebuah acara yang menarik dan menjadi trendsetter. Sesungguhnya, masih banyak celah yang bisa digali TVRI untuk bisa bangkit menjadi stasiun TV yang kembali menjadi panutan dan  banyak ditonton masyarakat.  TVRI juga harus melakukan riset kecil-kecilan tentang segmen yang dibidik sesuai dengan acara yang akan dibuat. Tim TVRI juga  harus jeli melihat potensi komunitas yang kini sudah banyak menjamur.

Soal SDM, TVRI juga harus berani tampil lebih fresh dan mengedepankan tenaga muda yang profesional. Misalkan dengan menempatkan para wartawan pemburu berita dengan tenaga muda yang terlatih, mereka di”branding” sedemikian rupa sehingga mereka selain  profesional  dalam bekerja juga  bangga dengan korpsnya. Upgrade skill SDM  bisa menjadi alternatif manajemen TVRI untuk me-trainingkan mereka keberbagai model training yang relevan.

Satu paket dengan apa yang disebutkan diatas, TVRI juga harus melakukan rebranding merek/logo/tagline menjadi lebih dinamis. Ini bukan berarti  meninggalkan jejak lama TVRI sebagai TV milik pemerintah, namun model rebranding ini sepaptutnya dilakukan  untuk mereposisi Image yang disejajarkan dengan model acara dan  tanyang baru yang akan disiarkan dan diharapkan menjadi andalan.

Tentu, kita  tidak menginginkan TVRI stag dan kemudian “mati suri” atau  selalu monoton dalam acara. Kebangkitan TVRI masih banyak dinanti masyarakat. Saya optimis TVRI juga berfikir hal yang sama dengan saya, tinggal eksekusinya dilapangan yang pas. Tidak menutup kemungkinan TVRI bisa menjadi TV rujukan banyak orang dan  bisa diandalkan dalam berbagai acara yang mengedepankan faktor edukasi, sehingga kehadirannya ikut membantu mencerdaskan bangsa. [lysthano, penonton setia TVRI dari dulu hingga sekarang]

Jakarta, 20 Agustus 2010.