Oleh: Ignatius Haryanto

Walter J Ong, ahli komunikasi asal Irlandia, sezaman dengan Marshal McLuhan, menulis Orality and Literacy (The Technologizing of the Word), 1982, yang kini menjadi buku klasik.

Buku tersebut menggambarkan bahwa dunia keberaksaraan dan kelisanan sebenarnya muncul untuk saling mendukung. Munculnya keberaksaraan tidak serta-merta meniadakan kelisanan, bahkan dalam keberaksaraan akan memunculkan kelisanan “lapis dua” (secondary orality).

Dunia media digital saat ini ibarat kita sedang mengarungi suatu lautan literasi baru, di mana kita sekarang mungkin masih mengejanya. Dunia digital sudah dimulai satu-dua dekade lalu, dan pada saat yang sama tumbuh alat penerima komunikasi yang makin canggih. Alat komunikasi kita sekarang memungkinkan untuk tidak sekadar berkomunikasi lisan, tetapi juga berkomunikasi dengan tukar-menukar data, berkirim pesan tertulis, gambar, semua dalam jumlah besar.

Dunia industri media saat ini berubah total. Bagaimana nasib jurnalisme dalam kondisi industri media massa kini? Apakah jurnalisme masih relevan? Bagaimana cara membuatnya tetap relevan? Apakah ada yang secara mendasar berubah dari sisi produksi pesan komunikasi hari ini? Siapa yang disebut audiensi pada masa sekarang? Bagaimana informasi didistribusikan pada hari ini? Dan sejumlah pertanyaan lain.

Beberapa tahun lalu, dalam seminar di University of California, Los Angeles, AS, muncul pernyataan “What we need now is journalism, not newspaper…” Sekarang, makna dari pernyataan itu makin jadi jelas bahwa jurnalisme adalah suatu yang tetap penting mengisi media pada hari ini, lepas dari aneka bentuk media yang akan membawanya.

Mungkin saja surat kabar makin lama makin tidak populer, dan banyak orang sekarang lebih mengonsumsi jurnalisme lewat mobile media, tetapi isi media bernama jurnalisme tetap memiliki posisi yang penting.

Jurnalisme macam apa?

Dalam kondisi yang terus berubah ini, kita patut bertanya, jurnalisme macam apa yang harus digunakan karena informasi yang disajikan kini beredar hanya dalam hitungan jam atau menit dari saat peristiwa terjadi. Informasi yang dihasilkan bisa saja lebih banyak dibandingkan yang diproduksi dua dekade lalu.

Audiensi menerima informasi dari aneka penjuru: dari media tradisional seperti surat kabar dan majalah, media baru semacam media online, televisi, serta media sosial (yang harus diverifikasi sebelum diyakini kebenarannya), dan lewat jaringan-jaringan di mana kita terlibat.

Untuk kondisi ini, kalimat bijak “content is the king” makin relevan. Jika jurnalisme ingin tetap relevan dan menemui pembaca lama dan barunya, jurnalisme harus terus berinovasi. Jurnalisme masa sekarang tak lagi menunggu peristiwa terjadi atau menunggu apa yang akan dikomentari atau dikemukakan oleh pejabat atau artis. Jurnalisme saat ini harus lebih proaktif dan kreatif menciptakan konten baru. Konten semacam ini harus makin mendekat kepada audiensi, dan juga memberi ruang kepada audiensi untuk berinteraksi.

Berbagai forum pimpinan media dalam dan luar negeri sepakat, media yang bisa bertahan adalah media yang makin mendekatkan diri dengan audiensinya. Artinya, pembuat pesan sebagaimana konsep lama komunikasi tidak semata-mata para pengelola media, tetapi audiensi bisa berkontribusi menghasilkan konten lain.

Sebagian besar berita yang dibuat wartawan mudah direspons pembaca secara cepat, bahkan setelah pembaca selesai membaca berita. Berita langsung dikomentari—juga langsung disebarkan lewat link via media sosial—sehingga pendistribusian informasi bergerak sangat cepat.

Jurnalisme saat ini perlu makin cerdas untuk mengimbangi audiensi yang juga makin cerdas. Sumber informasi audiensi zaman sekarang bisa datang dari berbagai media.

Cara memeriksa kebenaran suatu informasi mudah dilakukan dengan membandingkan isi media satu dengan yang lain. Organisasi media yang hendak terus maju perlu mempertimbangkan strategi isi media yang tidak mudah ditelan waktu, sesuatu yang memberikan bacaan penting untuk diingat lebih lama. Konten seperti itu memberikan kesempatan audiensi turut berkomentar atas isinya.

Dalam peringatan hari ulang tahun ke-48, Kompas meluncurkan edisi siang dalam versi digital. Kompas sadar perkembangan pesat ini harus direspons dengan strategi baru di mana konten dihasilkan bukan sekadar follow up berita yang telah dihasilkan sebelumnya, tetapi dengan konten yang berdiri sendiri dan tetap menarik untuk dibaca tanpa tergesa.

Inilah cara Kompas untuk makin mengeja perkembangan dunia digital. Aneka inovasi memang dibutuhkan untuk membuat jurnalisme tetap relevan kepada audiensi dan menambah nilai dari informasi yang disampaikan. Apakah inovasi semacam ini berhasil atau tidak, kita masih harus melihat perkembangannya. Namun, yang pasti dunia digital memberi peluang besar untuk langkah-langkah inovatif.

Di belahan dunia lainnya, inovasi sejenis dilakukan oleh sejumlah organisasi media. Namun, kita harus selalu kembali pada kontekstualisasi kondisi yang kita hadapi di Indonesia: infrastruktur, postur industri media, sumber daya manusia, dan kreativitas.

Makin banyak kita belajar mengeja (dan melihat orang lain juga mengeja dunia yang sama) akan semakin baik untuk membantu pemahaman kita terhadap dunia baru yang sejauh ini seperti tak berujung.

Ignatius Haryanto

Peneliti Media;
Direktur Eksekutif

Lembaga Studi Pers dan
Pembangunan

(Kompas cetak, 3 Juli 2013)