majalah kampus Pictures, Images and PhotosDiakui, tidak mudah untuk membuat majalah mahasiswa dan laku dibeli oleh konsumen. Apalagi tema tulisan yang dihadirkan  bersifat normatif dan sudah banyak diketahui umum.  Tidak itu saja, dalah hal desain,tampilan majalah juga kurang menarik termasuk spesiikasi yang digunakan, misalkan kertasnya terlampau tipis sehingga mudah sobe, desain dan warna covernya kurang menarik, dan lain sebagainya. Apakah ini berarti konsumen menuntut kesempuranaan kerja dari para pengelola yang notabene  mahasiswa juga. Boleh jadi demikian, karena jika konsumen ingin membeli sesuatu banyak pertimbangan. Dalam dunia kemahasiswaan apalagi pengeluaraan tersebut menjadi ekstra buat mereka shingga mengurangi biaya kongkow beberapa rupiah.  Dikalangan pengelola majalah kampus, dulu malah muncul celotehan beli 1 baca 4. Artinya yang membeli majalah satu orang, yang membaca 4. Bisa yang beli satu orang, dan atau mereka patungan untuk membeli majalah.

Intinya, mengelola pers mahasiswa harus jeli dan kreatif. Misalkan, jeli melihat informasi menarik untuk dijadikan berita. Menelisik lebih dalam dengan menggali informasi behind the scene dan disajikan ke pembaca. Dengan kata lain, kontentnya harus “beda” dan kadang ekstrim seperti yang teman-teman saya bikin, yaitu berita dari hasil survei yang menghebohkan.  Konten majalah juga harus memberikan “nilai lebih” kepada pembaca. Misalkan melampirkan informasi penting yang jarang dipublikasikan, misalkan menyangkut informasi-informasi penting disekitar kampus, peta dan lokasi kampus, kos-kosan, dan lain-lain. Intinya, pembaca yang notabene mayoritas mahasiswa bisa mendapatkan nilai lebih tersebut.

Sisi kreatif pengelolaan konten dalam hal ini kreatif menulis sesuatu yang memancing orang lain untuk memberikan komentar atau masukkan, sehingga terjadi feedback antara pengelola dan pembaca. Seperti yang trend saat ini, dikebanyakan media gaul, dihalaman belakang dilampirkan foto-foto unik, lucu dan seksi dalam sebuah acara (party). Mahasiswa bisa membuat versi sendiri dari foto yang disajikan, misalkan dalam acara musik kampus, seminar/diskusi dan lain-lain.  Intinya ada nilai referensi dari media tersebut untuk disebarluaskan secara mandiri (WOM) oleh pembeli.  Saya baru saja mengalami, seorang IbuMuda mencari majalah X ditoko buku ternama karena didalamnya ada foto dirinya bersama temannya dalam suatu party:).

Banyak hal-hal menarik yang bisa digali diseputar kampus. Terkait dengan ini, penulis juga mengusulkan sebuah rubrik lintas kampus, misalkan 10 kampus terbesar di Jakarta, dimana ada liputan tentang kampus tersebut (berita/informasi, dll) Hal ini menjadi nilai tambah  penjualan majalah lintas kampus. Artinya majalah bisa juga dijual diluar kampus. Disamping tukar informasi, pihak kampus lain juga mengetahui berita/gosip di kampus tetangga. Patut dicatat, luasnya jangkauan distribusi memberikan pertimbangan tersendiri bagi para pengiklan  yang ingin memasang iklannya dalam majalah tersebut.

Pengelola juga harus kreatif menawarkan branding majalah kepihak sponsor untuk “dimodali” terbit. Artinya dengan memasang sesuatu/identitas sponsor dalam majalah tersebut, pengelola tidak susah payah menjual majalah. Misalkan Bank X yang ingin membranding majalah tersebut karena dinilai sesuai dengan terget market dan model promosi bank yang bersangkutan, misalkan majalah jadi berubah warna sesuai dengan icon warna bank tersebut. Kemudian didalamnya terdapat banner dari sponsor yang mem-branding majalah tersebut. Bisa juga menulis advetorial sebuah produk dan pengelola mendapatkan sejumlah dana dari pengiklan.

Soal penjualan majalah, tidak ada salahnya bagian dana usaha/marketing berupaya mendapatkan  pelanggan setia majalah yang mereka buat, misalkan dari alumni, lembaga riset dan pihak umum yang  memang ingin berlangganan. Dengan teknik seperti ini, modal awal terbit berupa dana “segar” sudah tersedia, tinggal  bagaimana pengelola mengaturnya.

Tentu saja, menuju ke arah ini tidak mudah. Disamping sebagai mahasiswa  memiliki seabreg tugas kuliah, kadang mereka dituntut mendapatkan skill tambahan dengan cara magang. Poin lainnya adalah terbatasnya waktu kuliah setiap mahasiswa hanya 5 tahun, dimana waktu mereka dipengurusan juga terbatas. Waktu “belajar” mereka mengelola majalah belum cukup, namun panggilan lulus kuliah harus segera dipenuhi.  Poin ini menjadi menarik untuk dijabarkan dalam tulisan saya berikutnya.

Terkait dengan mereposisi, penjelasan diatas merupakan beberapa bagian yang harus dilakukan para pengelola jika medianya tetap ingin eksis. Jika tidak berbenah dari sekarang, saya khawatir peran tersebut sudah diambil oleh banyak media lainnya, termasuk media online yang secara realtime menyajikan liputan.  Apalagi untuk mendapatkannya bisa diperoleh gratis dengan  cara men-download atau browsing.  Kadang dalam suatu kesempatan penulis merenung, jika apa yang kita hasilkan tidak memberikan sesuatu yang lebih kepada pembaca, artinya eksistensi majalah menjadi tidak tampak dan layak untuk ditiadakan. Atau diganti dengan media yang berbobot (versi mereka) bikinan pihak berkuasa (rektorat).  Terkait dengan ini, Independensi dalam segala hal layak diperlukan oleh media kampus. Makanya, profit! 🙂

Berikut Poin-poin yang bisa dilakukan untuk memberi “nilai tambah” bagi eksistensi media  kampus:

1. Konten harus tampil beda, unik, heboh dan patut diketahui oleh setiap mahasiswa.
2. Desain harus menarik, eye cathing, dan enak dibaca (mata).
3. Ciptakan kemandirian dalam pembiayaan dan pengelolaan majalah ini.
4. Perbaiki manajemen internal, termasuk program pelatihan singkat bagi pengurus dalam rangka peningkatan skill.
5. Jalin kerjasama dengan pihak eksternal, misalkan donatur, pengiklan, dan lain sebagainya.

Diera kompetisi yang makin dahsyat lagi, pengelola memang harus bercermin dalam memuat sesuatu dalam majalah terkait hal kebermanfaatan bagi pembaca.  Jika pengelolaan bersifat mendatar, saya khawatir media kampus akan punah dan digantikan dengan media online atau munculnya blog-blog yang menjamur seperti cendawan dimusim hujan.