Gara-gara sedang bangun rumah, saya jadi tahu dan hafal harga material. Bukannya apa-apa, selisih beberapa rupiah saja, bagi saya sangat berarti. Anda tentu paham, bagaimana kalkulasi bangunan bagi orang awam seperti saya, mungkin Anda, menjadi berantakan apabila apa yang sudah kita rencanakan meleset. Pengalaman dengan harga besi yang diam-diam bergerak naik, atau  kayu yang nggak masuk akal  dan langka. Belum lagi, biaya2 tak terduga lainnnya. Saya spare inflasi saat bangun, melonjak hingga 20 %an:). Itung-itungan awal  bisa meleset ketika proyek berjalan.

Kemarin baru saja mampir ke supermaket bangunan, sebut saja MIO untuk mencari cat, karena butuh mendesak (cuaca lagi terang, bagus buat ngecet.. hehee). Sebulan sebelumnya juga mampir ke Supermaket bangunan sebut saja AHA. Soal harga, jangan bandingkan supermaket ini dengan toko bangunan langganan saya di Depok atau Tebet. Sudaj pasti jauh beeng. Namun saya senang sekali datang ke kedua toko ini, sekedar ingin cuci mata dan atau membeli barang2 kecil kebutuhan rumah.

Belakangan saya lebih suka dengan Supermaket Bahan Bangunan (SBB) AHA karena selain barangnya lebih lengkap, juga pelayanannya tanggap dan ramah. Tidak hanya itu, diskon-diskon disetiap waktu digelar, plus program poin yang berlangsung secara terus-menerus bagi membernya. Berbeda dengan MIO yang mencari member namun tidak dimaintenance dengan baik. Ya, saya pernah mendaftar menjadi member MIO namun buat saya tidak memberi manfaat sedikit pun  hingga masa membernya HABIS :(. Belanja hingga puluhan juta tidak mendapat apa-apa, poin pun tidak.

Bagi saya yang sedikit banyak paham dengan pemasaran, MIO sudah mensetting model yang salah bagi para konsumen. Dia belum sadar pentingnya seorang konsumen bagi suksesnya mereka  menjual bahan bangunan. Mengapa saya katakan ini, karena kini sudah banyak pangkalan/toko bangunan berdiri dan menawarkan barang yang sedikit banyak sama. Namun karena kapasitasnya kecil  (ruangan) memang tidak semua barang didisplay di rak.  Artinya setiap waktu kompetitor bermunculan dan inilah yang menjadi GENDERANG PERANG bagi siapapun yang membuka bisnis. Memaintenance seorang customer bagi saya, sama dengan memaintence 10 orang yang berkelanjutan hingga 100 atau 1000. Anda tentu ingat model marketing dari mulut kemulut?:) ini maksud saya.

Kartu Member
Soal kartu member, kesalahan  pertama MIO adalah  Dia mengeluarkan kartu member dengan batas waktu, dan member harus menggantinya ditahun depan. Kedua, kartu member kurang membawa manfaat bagi kita yang berbelanja dibawah 500 ribu. Ya, MIO memberika 1 poin bagi yang  berbelanja minimal 500 ribu.  Seperti pepatah pembeli adalah raja,  ini dimaksudkan service maksimal mungkin dan jaga agar konsumen tidak pindah  kelain hati:). Bagaimana dengan AHA? Dia memberikan member tanpa batas waktu dan poin diperoleh belanja minimal 100 ribu. Tidak hanya itu, barang2 dengan ITEM / Produksi AHA juga banyak yang didiskon. Misalkan harga kursi bagi member tidak sama dengan harga non member. Artinya, konsumen yang ingin menikmati program diskok AHA,  diharuskan mendaftar. Dengan demikian, sistem ini meraih banyak manfaat disamping penjualan juga jumlah member yang terus meroket.

Pelayanan
AHA sangat menyenangkan. Kita disambut ucapan selamat ketika masuk pintu, oleh security juga pramuniaga. Sampai kedalam kita ditanya, “ada yang bisa dibantu pak?” ketika kita menjawab mau lihat-lihat dulu (padahal ada yang mau dibeli) mereka mengatakan “silahkan” . Saat kita mengunjungi stand-stand atau lorong2 barang, pramuniaga  yang stand by menyapa. Intinya mereka sangat ramah dan menjaga betapa pentingnya seorang pembeli, meski hanya membeli skup saja. Sampai dikasih, kasih mengucapkan salam sambil mengangat dan menyilangkan tangan di dadanya, sedikit menunduk dan senyum.  Pasti setiap konsumen yang mengunjunginya merasa tersangjung dengan sikap dan perlakuan para kru AHA.

Lalu bagaimana dengan MIO? Beda dan sebaliknya. Yang paling mengenaskan, pramuniaga becanda dan main hp disaat bertugas dengan suara yang mengganggu. Konsumen dibiarkan saja menelusuri lorong-demi lorong tanpa disapa dan ditanya apa yang dicari.  Bagi saya,  dalam konsep supermarket, membeli atau  tidak tidak buat masalah. Tidak ada yang dirugikan.  Pengelola malah harusnya senang bisa menciptakan banyak kunjungan  yang menjadi indikator berhasilnya  publikasi dan suksesnya promosi. Jika kita memaintenance konsumen dan tetap merapikan lini depan (pramuniaga dll) menjadi lebih berkualitas, ini akan berdampak besar bagi penjualan selanjutnya.

So, buat saya harga murah menjadi pilihan. Kunjungan ke Dua SBB itu kadang saya jadikan survei harga dan membandingkan dengan toko bangunan biasa. Spare selisihnya lumayan. Tapi  jangan sangka saya nggak pernah beli loh?:) Belanja saya di MIO bahkan lebih besar melebihi AHA. Ya ketika itu saya membeli keramik dengan jumlah banyak berikut kelengkapan kamar mandi dan wc. Memang di SBB banyak pilihan dan saya ingin praktis pengeluaran dana dengan menggesek kartu. Ini yang tidak bisa dilakukan di toko bangunan langganan:). Kemudian pengantaran dan jaminan garansi. Bagaimana belanja di AHA? lumayan besar juga, jika diakumulasi. Ya, terkadang pretelan2 dibeli dan sering, jumlahnya akan besar juga kan.

Tebet 23 Jan 2010