Istriku hari ini mengatakan: “Jika dipikir2, kamu narsis juga yah mas. Dengan membuat perusahaan dari nama kamu ?”;)

Dulu, memang sempat kebingungan memberikan nama usaha kecil ku ini. Bolak-balik cari inspirasi di toko buku, ratusan majalah dalam dan luar negeri sudah dibaca, mulai dari TIME, Bussines Week, Economist hingga majalah yang memotivasi orang jadi pengusaha. Wah, cape banget… Juga sudah bolak-balik cek nama domain, yang ternyata sudah diambil orang lain. Meski domain nama Indonesia, setelah dicek ternyata milik asing… gaswat deh pokoknya. Pernah juga berfikir, mungkin semua kata yang ada didalam kamus Indonesia sudah didaftarkan sebagai domain dan diklaim sebagai milik pribadi oleh orang asing, nah loh….. coba saja cek nama Suharto, nama ini sudah dibook orang amerika. Cek lagi nama masjid : istiqlal.com… wah ini sudah diambil orang hongkong. Mungkin jika anda ketik nama domain yang sama dengan nama anda, sudah dimiliki oleh orang asing yang tidak relevan, untuk apa mereka beli/book nama itu ?:)

Nah,  ketika saya setelah mengecek nama itu kosong, tanpa ba-bi-bu lagi saya menuju ATM untuk meregister nama singkatan tersebut, lengkap dengan hostingnya.  Pikirku, nama itu mudah diingat dan gampang di speel oleh orang asing sekalipun.

Kembali pada dialog dengan istriku. Akupun berkilah tentang makna filosofi perusahaan kecil ku itu. Diapun mengatakan bahwa itu bisa-bisaan saya saja… “hahahha, ya sudah…” yang penting nama itu mudah diingat dan kini sudah mulai dikenal orang.

Anda mungkin pernah mendengar perusahaan Indonesia, bernama Setdco (setiawan djodi corporation), atau perusahaan yang dibangun oleh beberapa orang : tiga sekawan, lima sekawan atau dengan kata saudara. Buat saya itu sah-sah saja, intinya ingin menegaskan kepada publik bagaimana perusahaan itu dibangun dan dimiliki oleh siapa saja.

Ketika menulis ini, saja jadi berfikir, apakah ada didunia ini yang tidak narsis? Maaf, buat saya,  definisi narsis ini hanya pamer diri (sok atau tidak sok) dan mengarah pada sebuah eksistensi. Makanya ketika situs narsis dunia macam, facebook dan friendster diluncurkan, peminatnya seabreg-abreg dan menjadi fenomenal. Memang selain unsur narsis yang ada didalamnya fungsi networking juga berjalan.  Mudah memang menggunakan sistem ini, semalaman kita bisa bernarsis ria hingga mendapat ratusan teman dunia maya.

Nah bagaimana dengan narsis menggunakan nama untuk usaha? Ada mudah dan susahnya, apalagi dalam membangun networking. Namun, yang sangat beda mencolok adalah networking dalam sistem ini lebih riil, dibanding dengan dunia maya dimana setiap orang bisa saja ngibul. Kalo narsis dalam dunia usaha, lalu ngibul… sudah dipastikan para teman/relasi/clien pasti bakal kabur.

Anda ingin bernarsis ria, silakan…. NARSIS, Layak Diikuti dan Perlu 🙂

jakarta, 21 Maret 2009