Soal "Pop-Popan" Mari Belajar dari KoreaSaat ini siapa yang tidak kenal K-Pop? Musik kreasi negeri ginseng mewabah bagai “virus”, Indonesia menjadi salah satu “korbannya”. Kemarin, 22 September SM Town menggelar Live World Tour III   di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Istora Senayan. Beberapa kelompok K-Pop asli korea menggelar konser SM Town; Kang Ta, BoA, TVXQ, Super Junior, SNSD, SHINee, f(x), dan EXO. Tiket seharga Rp. 500 ribu sampai Rp. 2,5 Juta  laris manis bagai kacang goreng. Penggemarnya ternyata bukan saja dari kelompok ABG, para orang tua pun hadir bergoyang bersama. Para promotor pun “berebutan” ingin mendatangkan mereka ke Indonesia. Tentu saja dengan harapan mendapatkan keuntungan dari pagelaran  tersebut. K-Pop menjadi lahan yang manis untuk digarap.

Adakah yang baru dalam musik yang mereka usung? Sebetulnya, tidak ada hal yang baru dibawa oleh para musisi K-Pop. Mereka hanya bisa dibilang sangat kreatif memadukan nyanyian dan gerak.Suasana ceria dan energik  merupakan syarat yang harus dimiliki oleh penyanyi di korea. Seperti dilansir dalam situs hiburan di korea,”kpopstarz.com”,  salah satu cara agar hasil kreasi musik (baca K-Pop) digemari orang adalah keseriusan, kreativitas dan semangat melakukan perubahan dan menampilkan suatu yang baru dalam bernyanyi.

Kisah perjalanan K-Pop sebetulnya sudah dimulai lebih dari 30 tahun lalu. Namun, debut penampilan kelompok Seo Taiji and Boys di tahun 1992 menandakan awal mula musik pop moderen di Korea yang memberi warna baru dengan aliran musik rap, rock, techno Amerika. Suksesnya grup Seo Taiji and Boys diikuti grup musik lain seperti Panic dan Deux. Tren musik ini turut melahirkan banyak grup musik dan musisi berkualitas lain hingga sekarang. Musik pop dekade 90-an cenderung beraliran dance dan hip hop. Pasar utamanya adalah remaja sehingga dekade ini muncul banyak grup “teen idol” yang sangat digilai seperti CLON, H.O.T, Sechs Kies, S.E.S, dan g.o.d. Kebanyakan dari kelompok musik ini sudah bubar dan anggotanya bersolo-karier.

Pada tahun 2000-an pendatang-pendatang baru berbakat mulai bermunculan. Aliran musik R&B serta Hip-Hop yang berkiblat ke Amerika mencetak artis-artis semacam MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar negeri. Beberapa artis underground seperti Drunken Tiger, Tasha (Yoon Mi-rae) juga memopulerkan warna musik kulit hitam tersebut. Musik rock masih tetap digemari di Korea ditambah dengan kembalinya Seo Taiji yang bersolo karier menjadi musisi rock serta Yoon Do Hyun Band yang sering menyanyikan lagu-lagu tentang nasionalisme dan kecintaan terhadap negara. Musik techno memberi nuansa moderen yang tidak hanya disukai di Korea saja, penyanyi Lee Jung-hyun dan Kim Hyun-joong bahkan mendapat pengakuan di Cina dan Jepang.

Yang tidak kalah menarik adalah berkembangnya musik balada Korea yang menghiasi puluhan drama televisi yang menjamur. Dengan nada sedih dan kadang mendayu-dayu, penyanyi melantunkan syair  sedih dan patah hati dalam percintaan. Untuk urusan musik balada penyanyi dan musisi Baek Ji Young, KCM, dan  SG Wannabe bisa dibilang menjadi pionernya. Bagi penggemar drama korea,  tayangan  Winter Sonata, Sorry I Love You, dan Stairway to Heaven pasti sangat berkesan.

Sejalan dengan bombardir drama korea, musik dengan label K-Pop makin  merajalela diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tahun 2010-an muncullah puluhan boyband dan girlband yang meniru gaya penyanyi korea, mulai dari koreografer hingga pakaian, misalkan Max5, Sm*sh, 7 Icons,S9B (Super Nine Boys), M1st, G String, dan Cherry Belle.

Patut diakui, K-Pop  kini menjadi trendsetter anak muda di Indonesia. Tidak hanya musik dan film namun juga gaya busana dan rambut. Bahkan belakangan merembert ke produk makanan. Akibat gelombang korea (mereka menyebutnya hallyu), Korea meraup keuntungan besar, misalkan pada sektor pariwisata. Menurut data Korea Tourism Organization, dari 8.8 juta turis mancanegara yang datang ke korea sampai 2010. Dikawasan ASEAN, hingga akhir tahun ini sudah 1,2 juta orang berkunjung ke Korea.

Melihat peluangnya yang cukup besar, menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,  Mari Pangestu, mengatakan bahwa Indonesia harus mau belajar dengan Korea. Disana Mari mengunjungi Badan Produk Kreatif Korea (KOCCA) di Seoul. Mari terkagum-kagum dengan lembaga yang menjadi “Think-Thank” bangkitnya industri kreatif di Korea. Pemerintah Korea juga loyal dan sangat mengapresiasi karya para seniman disana. Misalkan dalam sebuah lomba penulisan naskah film, panitia menjaring 20 penulis berbakat dan menyediakan biaya Rp. 4.3 M untuk dijadikanya film atau drama.

Sepulang dari Korea Mari Pangestu makin yakin Indonesia juga bisa membuat konsep ekspansi budaya lewat I-Pop. Tidak kecuali, CEO KOCCA, Hong Sang-pyo, menyatakan kesediannya membantu. Tidak hanya itu, CEO PT YS Media (menejer industri musik K-Pop), Park Young-soo merasa yakin jika I-Pop juga bisa mengekspansi dunia. Lewat manajemen YS Media,  Park Young-soo siap merekrut 10 anak muda Indnesia yang mau dididik sebelum terjun ke d industri musik.

Menginginkan musik Indonesia (I-Pop) berekspansi ke negeri seberang mungkin akan hanya menjadi khayalan semata jika tidak ada dukungan yang serius dari pemerintah. Misalkan, pemerintah harus berani melakukan terobosan mengenalkan musik Indonesia di luar negeri dengan membantu mereka untuk bisa tampil di LN dan dalam berbagai kesempatan yang mereka gelar. Pemerintah juga bisa membantu membuka jalur distribusi dengan menggandeng label/recording hasil karya musik Indonesia lebih jauh lagi.

Pemerintah bekerja sama dengan sejumlah musisi dan pekerja seni  harus bisa merumuskan model ekspansi budaya Indonesia yang tidak hanya melalui musik, namun juga melalui tayangan (film), tarian, dan bahkan makanan khas Indonesia. Dan sebetulnya, upaya ini dilakukan tentu saja bukan hanya untuk berkembangnya  musik dan budaya lainnya, namun juga menggerakkan sektor pariwisata Indonesia hingga banyak para wisatawan datang ke Indonesia menyaksikan pertunjukan musik berskala international, macam JavaJazz, JavaSoulNation, Rockinland dan ajang musik rutin tahunan yang digelar di Indonesia.

 

lysthano-september 2012