Suatu ketika saya pernah berkata pada kawan saya yang menjadi pendukung salah seorang kandidat dalam pilgub DKI,bahwa calon yang diusungnya “ditelanjangi” habis-habisan via social media. Via  pesan BBM saya sampaikan bahwa untuk melawannya adalah harus melalui social media juga, dalam hal ini FB dan twitter. “Untuk kelas menengah ke atas yang melek teknologi internet, calon ente sudah “habis” bro, bahkan  kalo dibikin survei di dunia maya, siapa yang bakal juara sudah bisa ditebak'” tulisku dan ku kirim tengah malam.

Beberapa waktu, setelah digelar pencoblosan dan perhitungan, benar saja.. calon yang diusungnya tumbang. Ya, survei dunia maya ternyata berlaku di dunia nyata. Sejuta alasan pun terlontar dari calon yang kalah. salah satunya adalah, banyak calon pemilih calon X yang tidak mencoblos dengan alasan masih dalam waktu liburan, jadi mereka lebih lebih mementingkan  liburan dibanding pencoblosan.:)

Untungnya, saat itu ada 5 calon dan berlaku perhitungan kemenangan 50% +1. Artinya jika salah seorang kandidat menang dibawah angka 50% dari total suara, maka akan digelar pemilu lagi, alias pemilu putaran kedua.

Dalam masa kampanye putaran kedua, kembali terjadi perang opini via social media. Dalam pengamatan saya, intensitas calon penantang lebih sering tampil dengan image positif di social media dibanding calon incumben.Tidak sekedar komentar2 posiitif dari pendukung, sang penantang juga muncul dengan beragam video kampanye yang konon dibuat oleh para simpatisan. Kembali, simpati via social media diambil sang penantang. Aku kembali bbm temanku tentang hal ini. Dia hanya menjawab, “saatnya “pertempuran” ideologis,” tulisnya singkat. Aku tidak membalas pesannya, hanya termangu dengan model “pertempuran” apa yang akan diusungnya??

Tidak lama munculah isu-isu seputar SARA yang menyudutkan sang penantang. Tidak tanggung-tanggung seorang raja dangdut menyeretkan diri terjerat dalam isu ini. Via ceramahnya yang kontroversi, Rhoma membeberkan kriteria pemimpin dalam Islam. Kasus ini dianggap selesai oleh panitia pengawas pemilu karena tidak mengandung unsur yang diperdebatkan.

Dipenghujung  pertempuran, perang via social media terus berlanjut..Dari cara yang halus hingga kasar dan terang-terangan. Via komen, pernyataan dan penampilan video yang saling menjelek-jelekkan, tampak terlihat kenyataan ingin “mengacak-acak” opini masyarakat, dalam hal ini di dunia maya.

Efektivitas Social media dalam pemilu sangat jelas terlihat. Kenyataannya bukan hanya itu, medan pertempuran di dunia maya juga menjadi konsumsi empuk banyak media. Dari media simpatisan sampai media yang mengaku netral. Demo ke media yang dianggap pro juga terjadi bersamaan dengan demo protes masyarakat muslim atas film innoncence of muslim.

Sebagai objek nyata dari bahan social media. Ditataran dunia nyata,offline sebetulnya sang calon tinggal memainkan unsur psikologis saja. Penampilan yang elegan, kalem dan santun pasti akan lebih menuai simpatik dibanding penampilan yang arogan dan menganggap dirinya mampu.

So, saya punya prediksi sendiri siapa kandidat Gubernur yang bakal menang via analisis Social Media. Untuk hasil prediksi, saya akan sambung dalam tulisan berikutnya.:) [lysthano]