“Media seperti CNN atau The New York Times sekalipun, yang bagus sekali dalam meliput persoalan politik dan ekonomi, menjadi sangat buruk ketika memberitakan masalah agama.” Pernyataan ini merupakan bentuk keprihatinan Endy Bayuni, Editor Senior The Jakarta Post, menyikapi minimnya pemahaman para jurnalis di seluruh penjuru dunia ihwal agama. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kuliah Umum & Peluncuran Buku JURNALISME KEBERAGAMAN: Sebuah Panduan Peliputan yang digelar di Aula YLBHI, Jln. Diponegoro No. 74, Jakarta Rabu siang tadi, 8 Mei 2013, pukul 14.15 – 16.15 WIB.

Pada kasus Bom Boston, media sebesar CNN dan The New York Times bisa tergelincir dalam propaganda Islamophobia. Padahal, polisi belum menangkap para pelakunya dan menyeretnya dalam persidangan, sehingga tidak diketahui motif-motif sesungguhnya dari aksi pengeboman itu. Dalam ceramahnya itu Endy, yang juga mantan Pimred The Jakarta Post, memberikan contoh CNN dan The New York Times dengan maksud menggambarkan betapa sangat sedikitnya jurnalis yang memberikan perhatian pada isu agama. Sementara, dimensi agama hampir ditemukan dalam setiap peliputan, sehingga tidak seorang pun bisa menutup mata bahwa agama menjadi semakin sentral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, hampir di seluruh dunia.

Jika ketidakpahaman para jurnalis di CNN dan The New York Times terhadap persoalan agama berakibat jauh pada makin maraknya Islamophobia di kalangan masyarakat Barat, berita media-media di Indonesia tentang agama juga kondisinya tidak berbeda, yakni turut memanas-manasi situasi kehidupan beragama di masyarakat yang semakin konservatif dan intoleran. Pada liputan tentang agama dan keyakinan minoritas seperti Kristen dan agama-agama non-Islam lainnya, Ahmadiyah, dan Syiah, media-media mudah terpeleset dalam bias-bias yang dapat mendorong publik salah paham. Hal itu disebabkan kebanyakan jurnalis hanya menerima secara mentah-mentah apa yang dikatakan para ulama mainstream tanpa melakukan penelitian sendiri tetang agama atau keyakinan tertentu yang diberitakannya. Selain ketidaktahuan, sentimen keyakinan atau keagamaan dari para jurnalis juga ikut menjadi faktor pemicu berita-berita yang stereotipi atau stigmatisasi terhadap kelompok minoritas, antar maupun di antara agama.

Sebagai salah seorang dari tujuh dewan pengurus Asosiasi Internasional Jurnalis Agama/ The International Association of Religion Journalists (IARJ) yang dibentuk tahun lalu, 2012, oleh 25 jurnalis dari 25 negara dan kini anggotanya sudah 400 lebih dari 90 negara, Endy menekankan bahwa peliputan agama itu penting sekali. Dan, untuk itu, dibutuhkan sepenuh-penuhnya kesungguhan dan kedalaman pengetahuan agama. Celakanya, ia mendapati kenyataan, dalam meliput agama para jurnalis bukan saja kurang, bahkan gagal menerapkan prinsip good journalism.

Karena itulah pada kesempatan tersebut, di depan sekitar 30 jurnalis cetak, online, televisi dan radio serta sekitar 45 aktivis atau pejuang HAM – mengacu daftar hadir peserta – Endy sekaligus memperkenalkan dan mempopulerkan IARJ dan mengajak rekan-rekan jurnalis di Indonesia untuk bergabung di dalamnya. Sampai saat ini jurnalis-jurnalis yang tergabung IARJ sebagian besar dari Timur Tengah, karena banyaknya kasus terkait agama di wilayah tersebut, sementara 200-an dokumen pendaftaran masih diproses.

“Jurnalis politik sangat banyak, begitupun jurnalis bisnis & ekonomi, kriminal, olahraga, entertainment, dan sebagainya, tetapi tidak untuk jurnalis agama,” Endy menyayangkan keadaan yang sangat tidak ideal ini untuk dipikirkan bersama-sama, di Indonesia maupun negara-negara lainnya.

Dalam makalah kuliahnya Endy memaparkan,

“Bukannya tidak ada jurnalis di kalangan kita yang sehari-hari meliput masalah agama. Saya yakin kolega kita yang beatnya masalah agama, termasuk mereka yang sehari-harinya ditugaskan meliput kegiatan departemen agama, MUI dan lembaga keagamaan lainnya, dapat dikategorikan sebagai jurnalis agama. Tapi suara mereka jarang terdengar.”

Sebelumnya, Tommy dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menyampaikan keprihatinan serupa. Dalam sambutan Kuliah Umum dan Peluncuran Buku yang merupakan kerjasama Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dengan  LBH Jakarta, ia sangat menyesalkan berita-berita yang menyudutkan kelompok agama tertentu yang berakibat pada terbentuknya permusuhan dan kemarahan masyarakat hingga terjadi tindak kekerasan dan pembunuhan. Menurutnya, penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah dalam tragedi Cikeusik yang sangat brutal dan memakan 3 korban meninggal disebabkan, di antaranya, pemberitaan media yang selama ini salah mengenai kelompok Ahmadiyah. Berita-berita yang berkembang hanya menyuarakan pandangan Islam mainstream, sebaliknya tidak memberikan ruang bagi jemaat Ahmadiyah untuk menjelaskan dirinya menyampaikan kebenaran. Tuduhan bahwa syahadat Jemaat Ahmadiyah berbeda, yang juga kerap diulang-ulang media, menjadi pemicu berbagai tindak kekerasan yang menimpa jemaat Ahmadiyah di banyak tempat.

Persis sehari setelah tragedi Cikeusik Tommy mengadvokasi turun langsung ke lokasi kejadian dan memperoleh fakta-fakta yang mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Ia menceritakan bahwa salah satu korban dari jemaat Ahmadiyah yang sudah babak belur, hampir meninggal, justru diselamatkan oleh salah seorang penyerang atau penganiaya yang hampir saja membunuhnya – dengan alasan tertentu Tommy tidak menyebutkan nama korban dan penyerang – lantaran ketika mengayunkan pedang hendak menebas leher, korban melafalkan dua kalimat syahadat yang ternyata tidak ada bedanya dengan syahadat dalam Islam.

“Penyerang inilah yang kemudian membawa korban ke rumahnya dan memberi pakaian agar tidak dicurigai warga lainnya dan setelah itu mengeluarkan korban dari Cikeusik.” Tommy mengenang hasil advokasinya. Sedangkan respon berbeda ditanggung dua orang jemaat Ahmadiyah yang dalam peristiwa itu berhasil menyelamatkan diri ke kantor polisi. Kendati sudah mengucapkan syahadat, mereka tetap dipukuli massa. “Massa menyangka keduanya hanya berbohong dengan pura-pura bersyahadat seperti syahadatnya para penyerang,” Tommy meneruskan ceritanya dengan nada masygul.

Pemberitaan-pemberitaan yang menyesatkan publik dan anti terhadap fakta-fakta pluralitas di masyarakat inilah yang menjadi perhatian Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) sejak 2008, tahun berdirinya, sampai sekarang. Bersama dengan banyak pihak di tahun 2013 SEJUK berikhtiar menerbitkan buku JURNALISME KEBERAGAMAN: Sebuah Panduan Peliputan.

Ahmad Junaidi, selaku Direktur SEJUK, dalam sambutan pembukaan acara, selain mengucapkan terima kasih kepada HIVOS dan New Zealand Embbassy, pihak pendukung penerbitan buku dan penyelenggaraan kuliah umum dan peluncurannya, juga merincikan lingkup pergerakan SEJUK dalam mengembangkan jurnalisme damai di wilayah kebebasan beragama dan berkeyakinan, kesetaraan gender, dan orientasi seksual yang berbeda atau isu lesbian, gay, biseksual, dan tarnsgender (LGBT) dengan perspektif hak asasi manusia (HAM) dan pluralisme. Buku yang diluncurkan dalam acara ini memuat gagasan-gagasan tersebut disertai panduan bagaimana jurnalis dan media mengkampanyekan keberagaman dalam pemberitaan.

Pilihan terhadap isu-isu yang sangat sensitif dan rentan disalahartikan ini disadari betul oleh SEJUK dalam menghidupkan jurnalisme damai oleh karena persoalan keberagaman berkaitan erat dengan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama masyarakat, yang sayangnya sejak bergulirnya era Reformasi diliputi prasangka saling curiga dan cenderung makin tidak menghargai perbedaan.

Sementara itu, mewakili New Zealand Embassy (Aid Programme) Firliana Purwanti menyatakan akan terus mendukung kerja-kerja SEJUK dan menaruh harapan agar SEJUK terus konsisten. Dukungan itu disampaikan karena secara pribadi ia juga selama ini mengikuti kiprah SEJUK.

Menimbang kedekatan isu dan perjuangan yang menjadi perhatian SEJUK dan IARJ ini pula yang membuat Endy sejak awal tidak ragu-ragu untuk saling mendukung dan bekerjasama menghadapi dan menyiasati tantangan-tantangan baru bagi para jurnalis dalam meliput persoalan agama. Inisiatif-inisiatif kerjasama di kalangan jurnalis bertujuan agar terbangun kesadaran bersama mempraktikkan good journalism ketika meliput agama, mengingat teramat pentingnya isu ini.

Sebab, bagi Endy, “Media yang tidak meliput sama berbahaya dan tidak bertanggungjawabnya dengan yang meliput secara keliru peristiwa atau masalah seputar agama.” Maka, adanya perhatian dari para awak media dalam peliputan agama, diharapkan berita-berita di bidang agama lebih berkualitas. Karena itu pula, menjadi jurnalis agama sangat dibutuhkan.

“Pada dasarnya,” Endy menegaskan, “menjadi jurnalis agama adalah pekerjaan sekuler.” Dengan mempelajari pengetahuan seputar agama yang memadai, jurnalis agama tetap mengacu pada prinsip-prinsip yang bertujuan membangun good journalism. Sehingga, ketika meliput persoalan agama, prinsip verifikasi dan mengembangkan kritisisme idak bisa diabaikan.

Endy pun memberikan tip-tip: ketika keluar rumah dan hendak meliput isu agama, jurnalis harus tanggalkan baju keyakinan atau kepercayaannya; dan pada saat meliput, ia harus menjaga jarak, cover both sides; dan yang harus diperhatikan lagi, menghindari vonis atau judgement, sebab itu hak atau pekerjaan para ulama. Teristimewa ihwal vonis atau judgement keyakinan atau keagamaan, “Adalah bencana ketika media melakukannya. Celakanya, soal Ahmadiyah, Syiah, dan GKI Yasmin, media masih banyak melakukan ini,” Endy kembali memberi catatan terhadap pemberitaan agama di media massa.

Sehingga dalam komitmennya terus mengkampanyekan good journalism dalam peliputan agama, Endy pun tidak sekadar menyasar jurnalis. Tidak kalah pentingnya juga, media-media sudah saatnya serius memperlakukan agama dalam peliputan sehari-hari. Redaksi harus membangun tradisi memberikan prioritas dan atensi lebih besar, dan mengerahkan sumberdaya, termasuk dana dan tenaga jurnalis, untuk kepentingan ini. [Thowik SEJUK]

sumber: sejuk.org