Nama Java Musikindo mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga penggemar panggung hiburan musik di Indonesia. Kiprahnya selama hampir 20 tahun sukses membawa ratusan band-band, termasuk band papan atas, ke Indonesia. Sejumlah artis dan musisi  yang berhasil diboyong oleh Event Organizer (EO) dibawah komando Adri Subono  seperti Maroon 5, Owl City, Shah Rukh Khan, BJORK, Saosin, Simple Plan, hingga Steve Vai .  Sebagaimana konser yang digelar Java Musikindo, selalu menuai sukses. EO tersebut seperti memiliki InderaKhusus dalam mengendus, keinginan jutaan penikmat musik Indonesia. Terbukti, setiap event yang digelar Adrie Subono, tiketnya   selalu ludes alias sold out.

Tentu saja, dalam setiap event musik, dia sukses meraup keuntungan dalam nominal yang lumayan. Namun, yang patut diacungi jempol, dalam setiap kegiatan dari tahun ketahun tampak selalu makin baik. Tentu saja ini karena pengalaman  dari event ke event yang digelar Java Musikindo dan kinerja team mereka yang solid.

Kesuksesan sebuah penyelenggaraan kegiatan konser musik, tidak bisaa dilepaskan dari bagian team mereka, yakni Liaison Officer (LO), mereka menyebutnya Talent Division. Tugas divisi ini, konon paling menyenangkan, sekaligus paling berat. Dua hal yang bertolak belakang ini, mau tidak mau harus dijalani dengan “riang” dan dengan rasa suka yang tinggi sehingga kegiatannya bisa berjalan dengan baik.

Sukanya adalah karena seorang LO bisa sangat dekat (close) dengan artis.  Pasalnya, sang artis ataupun manajernya selalu menghubungi LO untuk berbagai hal terkait dengan kebutuhan mereka. Aktivitas seperti menjemput artis, mengantar ke hotel, menemani makan dan jalan-jalan, memenuhi keinginannya (permintaan) terkait dengan pementasan, hingga mengantar artis itu kembali ke bandara menjadi tugas seksi LO.

Tidak jarang, aktivitas diatas mengundang rasa “iri” yang sangat dari divisi lain. bagaimana tidak, LO bisa selama sehari 24 jam menemani aktivitas artis. Makan-makan, jalan-jalan, hingga foto bareng sepuasnya pasti merupakan hal yang gampang dilakukan oleh seorang LO. Namun dibalik itu semua, banyak hal yang tidak bisa dibayangkan sulitnya oleh seorang yang tidak biasa dalam posisi LO. Misalnya, menunggui artis tersebut saat beraktivitas, hingga artis itu tidur. Karena ketika artis istirahan,  LO  baru bisa istirahat dengan tenang. Selama sang artis minta ditemani, bisa jadi dari sore hingga dinihari, LO harus bisa menemaninya dan harus tampil “cantik” dan segar, meski kenyataannya dirinya sudah ngantuk, lelah dan bau.

Tidak sampai disitu, via LO permintaan artis yang kadang aneh bin ajaib, mau tidak mau harus dipenuhi. Misalkan  saat Java Musikindo mengudang artis Marriah Carrey tampil di Jakarta. Salah satu permintaan aneh sang Diva ini adalah, disediakannya karpet lantai kamar tidurnya dengan karpet yang berbulu dan berwarna pink. Tidak hanya itu, mbak Carrey, juga minta disiapkan penonton yang (seolah-olah) penggemarnya untuk membawa poster yang berisi kalimat mengelu-elukan dirinya, dan membuat pager betis saat dirinya berjalan menuju panggung.

Adalagi kejadian yang cukup aneh, saat Java Musikindo mengudang seorang penyanyi yang minta disediakan permen coklat “M&M’s” berwarna, kemudian permen itu di masukkan kedalam wadah (ricebowl) yang cukup besar (LO secara bergurau menyebutnya sebagai wadah sayur  untuk dimakan sekeluarga), setelah disediakan dengan rapi diruang ganti, namun beberapa jam sebelum konser, pihak menejer artis minta diganti isinya. Awalnya minta disediakan permen coklat dengan warna-warni ternyata harus diganti dengan warna yang biru. Dan yang paling “menjengkelkan” setelah disediakan (dengan pontang-panting), permen itu tidak disentuh sama sekali oleh artis yang minta tadi. Itu baru salah satu yang aneh.  Masih banyak yang aneh yang diminta artis saat mereka diundang hadir di Indonesia.

Selain aneh juga ada kisah yang menyebalkan. Mulai dari sulitnya manajemen artis untuk dihubungi, jumlah rombongan yang tidak sesuai dengan penetapan awal (mendekati hari H, jumlah rombongan bertambah), hingga hilangnya mesin kopi hotel yang ternyata “diangkut” personel band kedalam kamar hotel.
Untuk menghadapi sang artis, tentu saja seorang LO harus memiliki kemampuan yang unik, selain dalam hal fisik harus bisa tampil segar-bugar. Nah, agar bagaimana kinerja LO dan juga divisi terkait dengannya bisa berjalan dengan baik, ada tata cara yang sudah ditetapkan oleh EO. Tatacara yang sudah disiapkan kadang bersifat baku (tetap), namun tidak sedikit juga yang fleksibel.

Lewat buku “Liaison Officer Forever” karya Melanie Subono ini Anda akan mengetahui bagaimana sistematika kerja seorang LO. Melanie yang sudah puluhan tahun malang melintang dibidang per-LO-an tentu sangat paham tentang tata kerja divisi ini. Dan lewat buku ini, putri pemilik Java Musikindo menuturkannya dengan sangat lugas. Bahasa yang digunakan sangat gaul. Ungkapan, elu, gue, kampret, sompret, dan Sinting  menjadi kata yang ditampilkan seadanya.

Membaca buku ini, kita seolah sedang berhadapan langsung dengan Melanie. Lewat penuturannya, kita bisa tersenyum-senyum atau mungkin terbahak-bahak mendengar cerita Melanie yang memang sangat asli lucunya. Pada segmen yang menurut Melanie sangat menyesengsarakan dirinya, kita (pembaca) saat membaca seakan tertawa. Memang dasarnya Melanie yang  juga konyol, dia membuat iri para pembacanya, karena dia secara sengaja memampang foto dirinya berpose dengan artis kaliber dunia, misalkan dia berpose dengan Vicky dari Cobra Starship, dan para personel  Travis.

Bagi peminat dunia EO, membaca buku ini sebuah keharusan. [lyz/foto:Kaifa]