imamHari ini ku baca berita, buku biografi Imam Samudra (IS) laku keras. Untuk edisi perdana Penerbit Jazera Solo menerbitkan 5000 eksemplar, 3500 buku sudah habis dipesan. Para pembaca mungkin bernafsu ingin mengetahui pelaku pengeboman di Bali lebih detil, mulai dari masa kecil, remaja hingga dewasa.

Seorang temanku berujar; “wah ini mah mengambil kesempatan di saat sedang rame-ramenya bom di depan Kedutaan Besar Australia di Rasuna Said, Kuningan Jakarta,”. Saya sendiri hingga kini belum membelinya. Minggu lalu saya kebetulan berkunjung ke toko buku Gramedia Matraman, tapi nampaknya buku tersebut belum di pajang.

Menurut saya, penerbitan ini sah-sah saja. Penerbitan buku Imam Samudra mengambil moment yang tepat, yakni beberapa hari setelah tragedy bom di Kuningan. Banyak buku yang terbit tidak jauh dari kejadian kejadian yang menyertainya. Misalkan buku Diary Lady Diana, sang ratu Inggris. Begitu Dia Tewas bersama dengan temannya, doddy Al Fayed, media banyak mengulas dan buku merangkum serta menyimpulkan. Buku tersebut laku keras di Inggris, Amerika hingga Indonesia. Mirip juga dengan larisnya buku Bill Clinton yang baru lengser dari kekuasaan karena terlibat beberapa skandal, termasuk dengan karyawati yang magang di gedung putih, Monica Lewinsky. Konon, biografi wanita incaran Clinton ini juga laris di Amrik.

ima








Dalam sebuah biografi kita akan mengetahui segala hal tentang profil yang ada di dalamnya. Bukan Cuma itu, kadang ada info-info yang belum terpublikasi secara luas. Dan inilah yang menjadi nilai jual sebuah buku. Orang “dipaksa” tahu tentang apa yang sedang terjadi, siapa dan apa menariknya dari sebuah perjalanan hidup seseorang. Dan bagi sebagian orang, buku biografi tokoh yang dijuluki Teroris itu layak dimiliki. Tak terkecuali aparat kepolisian yang hingga kini terus mengusut jaringan teroris di Indonesia. J

Di Indonesia dan mungkin di beberapa negara, diterbitkannya biografi kadang bermotif “lain”, misalkan untuk memperoleh dukungan, pengakuan atau hanya sekedar ingin pamer karena sudah berhasil melakukan ini dan itu. Karena membuat buku mudah, tidak sedikit politikus, musisi, cendekiawan, tokoh agama hingga koruptor berlomba-lomba membuat biografi berdasarkan versi sendiri-sendiri yang kemudian diedarkan secara luas atau dibagi secara cuma-Cuma.

lady

Dan memang hak setiap orang mengekspresikan pikiran, pendapat hingga membeberkan perjalanan hidupnya dalam sebuahi buku sepanjang isinya tidak bertentangan dengan hukum.

Imam Samudra mungkin kini sedang menghitung hari di penjara, menunggu waktu eksekusi. Dan dengan larisnya buku biografinya, mungkin dia akan lebih dikenang oleh banmonicayak orang. Dalam benak kita, mungkin dia orang paling bengis and kejam diera milenuim ini. Bagi polisi (polisi dunia dan Pori) IS adalah penjahat kelas kakap yang catatan kejahatannya tergolong berat, maka harus dieksekusi mati. Tapi bagi kelompoknya, IS adalah pahlawan yang layak dikenang atas keberaniannya membunuh ratusan orang tak berdosa, yang menurut mereka “musuh”. Juga bagi keluarganya, IS adalah ayah pejuang dan pemimpin keluarga. Bagi Anak-Istrinya, dialah lelaki pembrani dan layak menyandang predikat syuhada. Nah, sangat subjektif kan isi biografi??

Dulu saya ingin sekali bikin biografi, tapi karena takut muncul nilai subjektifitas, niatan itu ditanggalkan. Biarlah penilaian tentang saya, dan mungkin Anda, bertebaran menurut apa yang mereka ketahui. Karena saya yakin, bahwa konsep kebenaran yang diyakini manusia bersifat relative. Hanya kebenaran Alloh lah yang Mutlak. Walallahu bis shawab