Seorang teman berceloteh tentang minimnya informasi yang ingin dia dapat,ketika dirinya merasa perlu untuk membuka kartu kredit pada salah satu bank swasta nasional. Ya, dia perlu membuat satu kartu kredit (lagi) untuk kemudahan melakukan  transaksi bisnisnya. Tidak hanya itu, dia berterus terang kepada saya bahwa dia tertarik membuat kartu kredit karena program promosi kulinernya yang sanggup melelehkan air liurnya:)

Curhatan kawan lama ku  ini kebetulan berlangsung saat saya sedang online, maka langsung saja saya buka alamat website bank yang dicurhatkan teman saya itu. dan ternyata, benar, informasi dan promosi kartu kredit yang gencar dipromosikan di sejumlah media (koran dan radio), termasuk media luar ruang (billboard) tidak diinformasikan di website. Celakanya ini corporate website. Saat saya buka, ternyata admin web tersebut terakhir mengupdate situs itu akhir 2010. Parah!:)

Berangkat dari rasa penasaran tersebut, kemudian saya membuka corporate website bank lain, yang menurut saya merupakan salah satu bank kompetitor. Dan, alamak…. ciamik tenan websitenya. Tampilan yang fresh, trendy,up-todate, dan navigasi viturnya yang teratur, membuat saya makin penasaran melakukan browsing lebih mendalam. Hasilnya, saya beri jempol untuk web bank itu.

Dari hasil browsingan itu saya kembali ingin mengatakan pendapat untuk sebuah website bank:

1. Website Bank wajib dimiliki oleh semua bank, besar-kecil. Tidak hanya sebagai corporate website, namun juga sebagai media informasi dan komunikaasi antara bank dengan customernya. Customer tidak hanya membuka akses untuk internet banking saja (via front page) web tersebut. namun juga  bisa membaca perkemmbangan terakhir dari bank, berita promosi atau berita lain yang bisa di share ke pada konsumen atau calon konsumen.

2. Web bank sudah seharus dan sewajarnya tampil segar (fresh), trendy (trend), dan uptodate.  Dengan makin berkembangnya ilmu dan trend dunia web desain, pengelola situs bank seharunya bisa dan mau mengikuti trend desain yang sedang diminati sehingga bisa langsung melakukan perubahan saat desain website sudah ketinggalan jaman.

3. Tidak hanya desainnya yang keren, untuk kontennya pun harus uptodate.Bahan content pastinya melimpah. Misalkan dari kegiatan promosi kartu kredit saja sudah bisa menjadi berita menarik yang layak dishare kepada para customer atau calon customer.

4. Trend social media, seharusnya bisa ditangkap oleh pengelola website perbankan, sehingga bisa gunakan untuk berbagai macam kegiatan promosi dan komunikasi. Dengan jumlah follower pada twitter yang banyak, bisa digunakan untuk promosi yang efektif dan efisien. Apalagi saat ini pengguna twitter kebanyakan mereka yang ingin selalu uptodate terhadap informasi terkini, misalkan info kuliner, wisata, shopping, dll.Nah, bukankah hal ini menjadi agenda promosi dari bank juga?

5. Bila web sudah jadi dan uptodate,  yang diperlukan lagi adalah memaksimalkan web bank tersebut pada mesin pencari (search engine), seperti google dan yahoo. Dengan memaksimalkan hal tersebut keterbacaan sejumlah keywords “menarik” pada website tersebut bisa dengan mudah “dilacak” dan menempati urutan teratas diberbagai mesin pencari.

Begitulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari curhatan temen saya. Kesimpulan bagi para pengelola situs bank (bagian humas, promosi, komunikasi dan publikasi) kini sudah seharusnya makin care  untuk memaksimalkan peran website menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

lysthano
kalcit, 20 april 2012.