PhotobucketHari ini status FB salah satu temanku dituliskan; Selamat datang Manohara. Dan memang, seluruh media nasional mengarahkan  beritanya ke kasus kebebasan mantan model Indonesia yang dipingit anak pameran kelantan Malaysia. Kini, sisi pemberitaan Manohara bisa dibilang menempati rangking ke dua setelah PilCapres. Berdasarkan pengakuan Manohara, selama menjadi istri pangeran Fakhry dirinya tidak bahagia dan  tersiksa. Kisahnya mirip dengan  nasib TKW Indonesia yang mengais ringgit di negeri Jiran itu.

Tidak sia-sia perjuangan Ibunda Dessy (Mama dari Manohara) yang terus berkampanye seputar nasib anaknya yang menderita. Tidak tanggung-tanggung, pihak kedubes kedua negara dilibatkan dan juga melibatkan Presiden SBY. Bahkan aksi Ibu Dessy ini ikut membuat macet jalan rasuna said kuningan dimana kedubes Malaysia ada di sana, dan saat itu saya ikut “menikmati” kemacetan… hehehe

Ramainya berita Manohara disalah satu milis mengundang cibiran. Bagaimana tidak, jika kasus TKW yang tersiksa dan menderita, atau bahkan kembali hanya nama dan jenazah, pembelaannya tidak seperti Manohara. “Nasibnya TKW miris, yang memperjuangkan devisa negara,” begitu tulisanya.

Didampingi pentolan sebuah ormas “pembela tanah air”, Manohara dan Ibunda-nya bertekad akan menyumbangkan sebagian hartanya bagi para korban kebengisan okunum di Malaysia. Melalui Wawancara TV, dia juga menyerukan dan berdoa semoga tidak terjadi kasus penyiksaan warga negara Indonesia di Malaysia.

Sebelum pembebasan Manohara, saya pun ikut setuju (dan sampai sekarang masih sangat setuju) dengan cibiran tanggapan dari banyak pihak tentang kasus kekerasan terhadap WNI di Malaysia. Pernyataan Manohara dan Ibundanya sedikit mengobati kegalauan terhadap ratusan kasus TKW yang menderita.

Diluar dukung mendukung kasus tersebut, saya hanya ingin sharing betapa unsur kehumasan/PR  dalam kasus Manohara berjalan. Koaran Ibunda Manohara dan keluarga kepada pihak Malaysia membawa tekanan yang tidak sedikit terhadap jalannya pemerintahan berkuasa di Malaysia. Saya meyakini, bahwa tidak semuanya orang Malaysia membela putra Raja Kelantan tersebut. Dan memang, bahkan menurut penuturan Manohara, orang dalam Istanapun ikutan membela dan memberika “bocoran” informasi kepada Manohara  yang menderita.

Tidak hanya itu, kepandaian Ibunda Dessy berbicara kepada Media massa juga menjadi catatan penting dalam kasus ini. Apalagi ini kasus yang lumayan ekstreem dan menyentuh kebijakan kedua negara. Gelaran wawancara dan press conference Ibunda Dessy membawa berkah tersendiri bagi kasus yang menimpa putrinya, sehingga coveran media begitu luas. Tidak hanya di Indonesia, tekanan atas kasus ini juga diterima pihak kerajaan dari banyak media yang menyuarakan kasus serupa.

Sedikit bergurau saya kepada teman saya yang bergiat di dunia Musik, untung tidak sampai ada acara GALANG DUKUNGAN MANOHARA oleh artis dan Musisi Indonesia. Gaungnya pasti bisa lebih luas. Misalkan group Band Nidji, Di3va (tiga Diva), Dewa, Slank,dan band papan atas berkomentar atas kasus ini. Wuah, pasti dahsyat menghantam pemberitaan media di negeri yang mengagung-agungkan musik Indonesia itu.

Dengan sedikit rampungnya kasus ini (pasalnya akan ada tuntutan ke pihak pangeran atas kasus penyiksaan (KDRT)) setidaknya Media ikut berperan dalam menggolkan kasus ini. Pemberitaan Manohara menjadi bagian bumbu sedap atas kisruhnya hubungan Indonesia _ Malaysia yang tidak kunjung rampung. Usai Manohara kini sedang serunya Perebutan pulau AMBALAT.

Kedaulauan RI memang dipertaruhkan dalam kasus ini. Selain dibutuhkan kepandaian berdiplomasi, para pelaku negosiasi dan juru runding seharusnya juga dibekali dengan ilmu kehumasan, sehingga dibelakan kasus itu, mereka bisa mengagendakan Isu (pemberitaan), dan menggali informasi dan bukti yang kuat tentunya. Ah semoga kasus ini cepat selesai … [foto by:http://jakartasocial.files.wordpress.com]