Inspirasi tulisan ini langsung saya alami minggu lalu, ketika saya mencoba untuk menghandel masalah pengecatan rumah. Sebetulnya kejadian bongkar-membongkar cat alias membuka dan menggunakannya hingga habis sudah sering saya lakukan, namun kejadian kemarin menggelitik untuk membuat opini ini.  Begini, dibanding tiga tahun lalu, merek cat di tempat penjualan bangunan tergolong masih sedikit, merek-merek cat didominasi merek-merek ternama yang sering memasang iklan dimedia cetak. Saudara saya yang pernah mencoba memasarkan merek cat baru tidak mampu bersaing. Padahal dalam hal kualitas, merek yang dijual saudara saya itu cukup bagus, dan harganya pun bersaing.  Namun entah kenapa, merek tersebut  sulit sekali tembus ke tempat penjualan bahan bangunan (depo). Bisa jadi, konsumen lebih mencari merek yang sudah terbiasa terdengar dan kualitasnya  telah direkomendasi oleh orang lain.

Tak bisa dipungkiri, dunia properti mengalami perkembangan yang dahsyat. Pembangunan perumahan terus dilakukan oleh banyak developer dari kelas kakap sampai developer kecil. Tentu saja ini melahirkan peluang baru bagi industri cat, sehingga mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk promosi sekali gus melakukan sales door to door. Artinya sejalan dengan pembangunan, kebutuhan akan cat selalu mengalami peningkatan.  Hanya ada dua point yang mereka bisa tawarkan;  pertama, kualitas yang bagus, kemudian harga yang bersaing. Harga bersaing tidak selalu murah, karena sang pemilik rumah akan rela mengeluarkan biaya (meski mahal) demi keindahan rumahnya.

Ada merek cat tergolong kelas menengah yang  banyak digunakan orang, sebut saja merek X. Kualitasnya bagus dan harganya bersaing, tidak murah dan tidak mahal. Mengapa? karena saya sudah  beberapa kali menggunakan merek cat kelas dibawah merek X itu, ternyata hasilnya mengecewakan. Misalkan kualitas bahan tidak sama dengan yang dipromosikan, seperti antipanas-antihujan, dll. Tidak hanya itu, warna cat juga mengalami perubahan setelah beberapa hari digunakan. Makanya saya kembali menggunakan cat merek X yang sudah teruji kualitasnya.

So, kemarin saya menemukan sebuah gelas klasik dan uang senilai Rp 5000 rupiah dalam kemasan cat. Gelas, dibiarkan tercelup dalam cat, sementara uang dikemas dalam plastik berlabel yang kedap cat, sehingga hanya basah saja ketika dikeluarkan.  Kejadian ini sudah berulang-ulang saya alami, soal nominal uang memang belum pernah mendapatkan nilai diatas Rp. 5000,- namun ini saja menurut saya membuat konsumen suka. Bagi pengguna yang membeli 12 kaleng, berarti sudah mendapatkan gelas satu lusin dan uang sebesar Rp 60.000,_ (jika nominal yang didapat rata-rata Rp.5000,-). Bagi saya ini merupakan terobosan bagi cat merek X ini dengan memberikan cashback kepada konsumen yang membeli cat. Dalam  hati berujar, jangan2 nilai  (harga) cat setelah ada cashback itu sebanding dengan harga cat  lain yang mencoba menjadi kompetitor.

Hal lainnya yang dilakukan merek cat ini adalah merubah penampilan desain  kemasan (kaleng) menjadi terlihat artistik dan  lebih berwarna. Saya yang   juga memiliki hobi bertanam, berniat menggunakan kaleng ini sebagai pot tanaman. Selain memiliki kapasitas sedang, kaleng tergolong awet dari kerusakan. Namun usul desain kepada produsen Cat Tetap menjadi catatan saya agar  terus diperbaiki. Untuk itu jangan segan-segan membuat inovasi-inovasi baru terkait dengan isu penyelamatan lingkungan. Hal ini sangat efeketif dilakukan dalam program-program kampanye  dan promosi mereka.

Produsen cat  jangan segan-segan melakukan inovasi-inovasi terkait dengan isu lingkungan yang sedang marak. Jika tidak berani memasuki wilayah ini, strategi komunikasi bisa dilakukan dengan cara yang soft dan keep silent, namun mengena dihati konsumen. Bila ini berhasil dilakukan, maka positioning menjadi lebih mantap sebagai cat yang direkomendasi dan mampu menyingkirkan pesaing-pesaing mereka yang mengusik ketenangan dalam meraih keberhasilan dalam penjualan.

salam

lysthano, 1 Nov 2009