Saya terperanjat saat mendengar isu tentang haramnya menu-makanan di rumah makan Solaria. Soalnya, saya dan keluarga lumayan sering makan di resto ini. Pilihan menunya banyak, dan harganya relatif murah. Tidak hanya itu, ada beberapa Solaria yang menurut saya sangat cozy untuk santai dan menikmati menu kesukaan kita.

Namun, sejak beberapa waktu lalu, saat berita dan isu seputar minyak babi yang dicemplungkan disetiap masakan Solaria, saya seakan tidak percaya. Saya coba searching dan tanya tentang kebenaran isu ini. Saya juga coba cari “sanggahan”  dari pihak manajemen Solaria, ternyata juga tidak banyak. Salah satu berita yang diquote situs vivanews, hanyalah pernyataan dari salah seorang manajer Solaria di Depok (saya juga pernah makan disana:)).

Saya pun belum puas, berita makin kisruh. Puluhan situs melansir seakan-akan berita ini sudah benar dan Valid, sejumlah situs Islam juga menulis dengan sangat keras.

Membaca tulisan yang seakan men-judge, saya kemudian memposting berita ini via akun Facebook saya, lysthano, ternyata juga mendapat tanggapan serupa, yakni pro dan kontra.

Salah satu poin yang saya katakan dalam kolom komentar di FB tersebut adalah, sudah saatnya pihak Solaria terbuka dan menjelaskan ke publik tentang isu ini. Salah satu yang direkomendasinya, seperti halnya untuk menyanggah kesalahan berita dan cenderung fitnah, adalah menggelar konferensi pers (press conference). Manajemen disarankan untuk mengundang sebanyak-banyaknya wartawan untuk hadir dan berharap berita “tidak benar” itu mendapat sanggahan. Tidak hanya itu, Solaria juga tidak segan-segan untuk memasang iklan tentang ke-halal-an (jika memang halal).

Sebetulnya, gosip tentang Solaria tidak haram sudah beredar sejak lama. Seorang kawan malah menuturkan, jika saudaranya ingin mengambil lisensi rumah makan tersebut, namun dibatalkan karena menolak permintaan untuk memasukkan bumbu (minyak) yang dirahasiakan bahan bakunya. Tidak hanya itu, gosip Solaria merupakan bisnis dari kelompok agama tertentu juga mengemuka.

Kelambanan dari pihak solaria dalam merespon isu ini menyebabkan berita terus bergulir. Ibarat bola salju, jika tidak segera direspon, isu ini akan menjadi besar dan sudah pasti mengganggu bisnis rumah makan ini. Maklum saya, resto ini sudah tersebar hampir diseluruh Indonesia, dan menjadi tempat makan favorit anak muda dan dewasa. Tidak hanya itu, resto ini juga sudah memperkerjakan ribuan karyawan yang (jika ditutup) akan menyebabkan angka pengangguran di Indonesia.

Untuk itulah, manajemen Solaria harus segera menyikapi Isu ini. Jika tidak dan terus “digantung” maka ada dua kemungkinan. Solaria tetap buka dan dengan pengunjung terbatas (sedikit), kedua sejumlah solaria akan menutup diri.

lysthano
Jakarta 30 Agustus 2013