Sudah tentu, jika ingin mendapat perhatian lebih, media harus tampil beda.  Pengelola media umum, akan berlomba-lomba menyajikan berita yang lain dari yang lain. Hal ini  memang sudah seharusnya, karena persaingan yang ketat pasti akan memakan korban. Siapa yang lemah ketika “bertanding” maka dia harus siap kalah.

Media kampus sebetulnya sudah memiliki segmen sendiri, yakni mahasiswa dan sivitas akademikanya. Lalu apa dengan serta merta jika media kampus membuat liputan tentang seputar aktivitas mereka, akan bisa laku atau minimal di baca.  Tak bisa dipungkiri, arus informasi dijaman sekarang sudah berkembang dan bergerak cepat. Artinya, kini banyak orang sudah mulai selektif dengan informasi apa yang akan diserap. Maklum, ibarat hardisk komputer, makin banyak data disimpan (apalagi jarang digunakan) maka kapasitas memori otak akan berkurang.   Maks udnya  pasti orang akan menghemat kapasitas memorinya  untuk hal yang berguna saja.

Dalam konteks ini dibutuhkan strategi jitu oleh   pengelola media kampus, agar  berfikir ulang jika ingin membuat pemberitaan. Filosofi JANGAN-JANGAN haru diterapkan dalam konteks ini, misalkan; jangan2  mahasiswa dan dosesn sudah tahu, jangan-jangan berita ini tidak menarik, dan lain sebagianya. Untuk itu, pengelola harus pintar-pintar mengendus gosip/informasi yang aktua dan faktual.  Beberapa media kampus kini malah melakukan pemberitaan yang normatif, alias isinya tidak membawa pengaruh  dan kurang  informatif. Pengaruh dalam hal ini “menggerakkan” pembaca untuk kembali beropini dan berwacana setelah membaca. Yang terjadi malah sebaliknya, ada atau tidaknya media itu, tidak terasa. Belum cukup itu, media kampus malah ada yang berperan sebagai ” mading” (majalah dinding), yang statis dan kadang “tidak dianggap” oleh bakal pembacanya yang lalu-lalang.

Jika sudah dalam kondisi seperti dituliskan diatas, penulis menyarankan agar menutup saja media itu. Dari pada lelah mengurusi hal biasa, juga tidak membawa manfaat. Yang ada malah, pengelola kelelahan berorganisasi dan meninggalkan tugas utamanya, kuliah.

Media Online, Media Alternatif
Ketidakberdayaan keuangan dalam pengelolaan pers kampus sudah bukan menjadi rahasia umum. Bisa dibayangkan berapa juta duit yang “terbuang” untuk mencetak majalah, apalagi sang pengelolan ProYek Rugi ini sudah biasa. Ketika mau terbit baru wara-wiri mencari iklan/sponsor/donatur, setelah terbit tidak tahu siapa pembacanya, siapa yang membelinya, berapa tingkat returnya? Tragis.

Untuk menyiasati hal ini, eksistensi media internet/website (portal) menjadi jawaban yang pas. Selain dengan modal yang tidak terlalu besar, pengelola bisa dengan leluasa berekspresi menulis beragam berita tanpa dibatasi oleh halaman. Tidak hanya itu, jangkauan keterbacaan juga luas. Pengelola dengan serta merta bisa mengupdate dengan cepat, dalam hitungan menit peristiwa yang baru saja terjadi langsung diketahui oleh  publik.

Namun sayang, berdasarkan pengamatan penulis belum ada media online mahasiswa yang membuat secara serius media model ini. OK mereka memiliki versi cetaknya, tidak ada salahnya versi online juga dihadirkan. Lihat saja media-media cetak besar yang juga mengedepankan media onlinenya untuk “melead” pemberitaan dan mengepankan brand image media yang bersangkutan. Di sisi pemberitaan, malah ada berita yang dimuat diversi online tidak diterbitkan dalam cetak.  Tidak hanya itu, pengelola juga memperkuat kontent portalnya dengan menghadirkan video/berita/informasi/iklan yang menarik untuk dibaca. Apalagi kini dengan teknologi yang ada, membuat film amatir namun bernilai berita dengan mudah bisa dilakukan.  Media online juga bisa dijadi komplement dan tawaran bagi pemasang iklan. Misalkan bagian pengiklan bisa menawarkan, pasang iklan 1 gratis 2, yakni pasang iklan 1 dimedia cetak, gratis iklan di portal.

Pengelolaan media ini tentu saja harus dilakukan oleh tim yang solid dengan jadwal update cepat. Artinya sisi kemenarikan portal ini berasal dari dinamisasi content yang selalu terupdate dan kelengkapan fitur. Namun sebetulnya peran dalam kerja tim redaksi ini bisa disiasati dengan pembagian tugas yang jelas dan komitmen terhadap tugas yang diemban. Dengan teknologi mobile yang terus berkembang, penulisan berita bisa dilakukan dengan menggunakan HP dan dikirim dengan fasilitas 3G yang kini sudah semakin murah. Dengan seketika sang admin atau siapapun yang berada pada akses komputer yang layak, bisa melakukan update langsung.   Tidak hanya itu dengan jenis HP BB,  sang wartawan bisa langsung masuk ke halaman dalam /back office dari admin untuk memasukan berita  yang sudah ditulisnya.  Semua menjadi serba mudah sekarang.

Tantangan
Dengan  berkembangnya teknologi pemberitaan, sangat memungkinkan daya baca terhadap media offline (cetak) akan menurun. Ini sudah dibuktikan dengan penutupan sejumlah media besar di luar negeri, bahkan di Indonesia karena tidak sangguup lagi melakukan operasional kerja. Apalagi tingkat persaingan media saat ini sudah begitu ketat. Penempatan posisi dan strategi yang salah oleh media, menjadi alasan mudah media tersebut untuk gampang dilibas.

Bagi pengelola media kampus, jangan takut dan ragu dalam mengelola media Anda. Sebetulnya ini merupakan kesempatan membuktikan kemampuan kerja kalian. Atur strategi yang bagus,  tetapkan target pembaca, bangun kualitas tulisan dan pandai memilih isu, serta terapkan manajemen profesional layaknya Anda berada dalam dunia kerja nyata.  Jangan takut pula membuat media yang anda kelola menjadi sebuah project yang menghasilkan secara kapital (bisnis). Jika Anda mengelola media, rugi dan harus susah payah mencari modal untuk terbit kembali, disarankan untuk menyudahi saja media Anda.  Tutup, selesai, dari pada membuang tenaga, waktu dan biaya. [lysthano, jakarta 8 sept  2009/foto:rumoehlensa]