Bagi penggemar musik Indonesia, khusus musik dangdut,  buku  berjudul  “Dangdut: musik, identitas, dan budaya Indonesia” ini layak untuk dijadikan referensi. Selain isinya yang lumayan lengkap, buku ini juga disempurnakan dengan analisis mendalam tentang asal-usul musik dangdut, langgam dan lirik, hingga industrinya.

Lewat penelitian lebih 3 tahun, Andrew N Weintraub, seorang berkewarganegaraan Amerika akhirnya sukses membukukan buku ini dan memberinya  judul “Dangdut Stories: A social and musical history of Indonesia ‘s most popular Music” yang diterbitkan tahun 2010 oleh  Oxford University press Inc.  Yang dua tahun kemudian, tepatnya April 2012,  diterjemahkan oleh Arif Bagus Prasetyo dengan judul “Dangdut: musik, identitas, dan budaya Indonesia” dan diterbitkan oleh KPG.

Seperti diketahui, Andrew N. Weintraub adalah seorang profesor musik di  University of Pittsburgh dan seorang direktur dari program gamelan di universitas yang sama. Kajiannya tentang budaya Indonesia, ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Andrew menulis Power Plays: Wayang Golek Puppet Theater of West Java. Disegmen musik dangdut, Andrew mendirikan kelompok musik dangdut “Dangdut Cowboys”
Totalitas, semangat dan konsistensi mengkaji budaya Indonesia, dalam hal ini musik dangdut menjadi warna keseluruhan isi buku ini.  Bagaimana tidak, selama  bertahun-tahun Andrew berkutat dengan penelitian mendalam, melalukan wawancara, baik dengan narasumber langsung, seperti Rhoma irama, A Rafiq,  Camelia Malik, Elvie Sukaesi, Meggy Z dan narasumber lain, baik dari bidang musik, maupun budayawan.
Menurutnya, perkembangan dangdut sebagai musik rakyat Indonesia begitu pesat. Tahun 1970-an, Dangdut dianggap sebagai musik kaum urban dan masyarakat bawah. Dangdut digemari sebagian besar laki-laki dan perempuan di pedesaan dan gang-gang sempit perkotaan. Satu hal yang membuat musik dangdut begitu mudah “menjalar” adalah karena lirik lagunya yang sederhana, mudah dipahami, dan memanfaatkan situasi keseharian yang dialami khalayak ramai. Dangdut, dalam pandangan Andrew, sudah menjadi bagian dari sebutan kata “Rakyat” di republik ini (Bab IV).

Perkembangan musik dangdut di Indonesia sejalan dengan bergeraknya sistem kapitalis yang diadopsi pemerintahan orde baru. Berkat teknologi, dangdut menyeruak, bergerak dan melebur bersama industri rekaman musik Indonesia. Sejalan dengan itu, dangdut juga berkolaborasi dengan  dunia perfilman nasional. Banyak artis dan musisi yang bermain dalam film yang didalamnya skenario akting disatukan dengan musik dangdut, Rhoma Irama, Elvie Sukaesih, Elly Khadam, dan A. Rafiq bisa dibilang menjadi ikon penyanyi dangdut saat itu.

Belum cukup itu, media masa dalam berbagai bentuk (koran, tabloid, radio, majalah) juga menjadi perpanjangan tangan dan makin mempopulerkan musik dangdut. Dangdut bergerak bersama modernitas negeri ini yang tampak “berkilau”, sementara masyarakat masih banyak yang masih bergelut dengan permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, hingga problema pribadi masyarakat yang paralel bergerak bersama lirik lagu dangdut. Budayawan, Emha Ainun Nadjib, malah menyebut Dangdut sebagai sebuah gejala di negara ini yang masih mencari identitas. Dangdut begitu memikat banyak pihak, mulai dari tukang becak, sopir bajaj, tukang bakso, pedagang rokok, bakulan dan para pengasong jalanan, sementara di sisi lain industri musik pop dan rock juga tengah berkembang.

Buku yang terdiri dari 300 halaman ini juga mencatatkan perjalanan musikal sang raja dangdut “Rhoma Irama”. Menurut Andrew, Rhoma menjadi ikon musik dangdut karena keterampilannya “memadukan” berbagai aliran musik, seperti rock n roll, orkes melayu, musik India hingga musik berirama kencang (hard rock). Rhoma Irama tahun 60-an pernah membentuk group musik “Tornado” dan “Gayhand” yang membawakan musik Paul Anka, Andy Williams dan The Beatless. Rhoma juga trampil membawakan  gaya vokal Elvis Presley dan Tom Jones. Kabarnya teknik vokal Elvis (Kiss Me Quick) diadopsi Rhoma dalam lagu “Darah Muda”, dan teknik vokal “pematahan frase”nya dengan beralih ke falsetto ala Tom Jones dalam “Delilah” diikuti Rhoma dalam “Kelana” dan “Cuma Kamu” .

Rhoma, dalam penilaian Andrew, merupakan musisi “cerdas”. Dalam wawancaranya dengan Rhoma, diketahuilah pengakuan jika tanpa mengkolaborasi dangdut dengan musik “Hard Rock” yang sedang menggila kala itu, seperti kelompok musik Deep Purple, Led Zepplin, dan Rolling Stones, dangdut akan menjadi ketinggalan jaman. Untuk itulah, Rhoma melengkapi band-nya dengan menambah alat musik elektrikal macam gitar listrik (dua buah), Bass, Key Board, Organ,  Drum  Set, timpani, tamborin dan alat musik lain termasuk penyanyi latar.

Tata panggung dan kostum  Rhoma Irama bersama groupnya, Soneta, juga kian mewah dan megah. Diawal karirnya, Rhoma tampil dengan citra yang melekat pada musisi hard rock di Amerika dan Inggris, misalnya dengan rambut gondrong, wajah berjanggut, celana ketat, kemeja dengan kancing bagian atas terbuka, hingga menggunakan sepatu bot yang “berhak”. Namun, usah pulang menunaikan ibadah Haji, Rhoma berganti penampilan dengan  menggunakan jubah, tutup kepala, dan sendal bertali.

Ulasan Andrew N. Weintraub tidak berhenti di raja dangdut, penyanyi dangdut lain, seperti Elvy Sukaesi, Camelia Malik, Reynold Panggabean, Mansyur S, Meggy Z, hingga era Inul Daratista yang membawa fenomena baru dangdut menjadi musik dengan goyangan yang sensual. Andrew juga mencatat bagaimana Dangdut kembali di “ekploitasi” oleh dunia hiburan, termasuk TV-TV yang menayangkan program musik dangdut, hingga kontes mencari penyanyi dangdut.  Tahun 2006 dalam sebuah survei informal tentang Program televisi mingguan menunjukkan bahwa 29 dari 43 acara musik dikhususkan untuk dangdut (67%), sementara perhitungan lain memperlihatkan dangdut  ditayangkan di layar kaca hampir sepuluh jam perhari.

Membaca kajian Andrew dibuku ini, akan makin membuka wawasan kita tentang musik Dangdut  yang kini bisa dibilang menjadi ciri dan budaya masyarakat Indonesia. [lyz/foto:koleksicinmi]