Persaingan yang makin ketat di Industri telekomunikasi, khususnya operator selular, menjadikan para operator tidak saja menabuh genderang perang tarif, namun juga perang  menerobos ke segmen konsumen (target market). Gerai-gerai kecil menjadi sasaran strategis bagi mereka untuk melakukan HandPhone yang dibandrol dengan layanan seluler.  Di wilayah Selatan seperti tebet, misalnya, jejeran kios kecil yang menjual Handphone sejajar dengan warung nasi atau bengkel kipas angin.  Tidak tanggung-tanggung, perusahaan selular rela “membayar” kepada sang pemilik kios untuk memasang spanduk mini dengan warna khas perusahaan.  Jadi terkadang lucu, sederetan kios-kios  menjadi beraneka warna, ada hijau, kuning, biru, merah hingga orang.

Perang tidak cukup disiru, operator rela mendatangi konsumen di mall dan perkantoran. Masih ingat  berita antrian panjang calon pembeli HP Esia di mall sekitar bundaran HI.  Tidak bisa dibayangkan, antrian sampai keluar gedung hanya ingin mendapatkan HP murah dengan teknologi (yang katanya canggih dikelasnya).  Strategi lainnya yakni ada perusahaan selular lain juga siap mengantarkan HP jika calon pembeli mau menelpon dan minta diantar ke tempat tujuan, pembeli tinggal sebutkan jenis HP dan segera diantar, kemudian  konsumen tinggal bayar ditempat.

Satu lagi  peristiwa yang baru saja saya alami, yakni perusahaan HP rela berjualan di pinggir jalan dengan membuka ” “lapak” yang disandarkan ke mobil operasional yang berlogo dominan menghias.  Sejumlah titik konon menjadi incaran para sales setiap harinya.

Strategi berjualan para operator selular semakin agresif dan masiv saja.  Maklumlah, saat ini memang pasar HP di Indonesia masih terbuka lebar. Tidak heran jika ada produk terbaru merek HP, orang akan ingin sekali tahu tekonologi yang dibawanya. Apalagi, jika sang produsen canggih mengemas HP tersebut menjadi bagian  gaya hidup kaum urban yang syarat dengan teknologi terbaru. Anda juga masih ingat atau mungkin jadi  pelaku:), betapa BlackBerry kini merajai Indonesia. Konon Indonesia merupakan pengguna terbesar ke-2 didunia. Dan memang, HP model ini bisa kita temukan di sudut-sudut kota hingga ke sekolah dasar di Indonesia. Persoalan harga tinggi, sudah tidak masuk logika  ekonomi para konsumen. Yang penting bisa bergaya dan menjadi bagian dari komunitas masyarakat modern.

Meski belum ada survei, kita bisa prediksi bahwa kini satu orang tidak lagi memiliki satu no pribadi. Saya saja kini memiliki 3 nomor,  dua  GSM dan satu  CDMA.  Alasannya, cukup beragam, mulai ingin hemat dengan CDMA, ingin punya no  yang sangat privacy  hingga no bisnis yang bisa dihubungi siapapun.  Orang dengan golongan ini (termasuk saya) menjadi target empuk para produsen hp. Apalagi, HP yang kini beredar  mempunyai sistem dual, bisa GSM dan CDMA. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, pengguna HP kini sudah tidak lagi batasi umur dan profesi. Artinya produsen HP akan sangat sulit memetakan target marketnya. Namun yang sedang asyik-asyiknya bagi mereka adalah berburu konsumen yang loyal menggunakan produknya. Berbagai strategi dilakukan dalam berpromosi dan jualan.

Agenda selanjutnya bagi produsen  tentu tidak mudah. Produsen dituntut untuk secara terus menerus memperbaiki kualitas layanan, jaringan, teknologi hingga point plus lainnya. Poin Plus lainnya misalkan promosi yang dilakukan beberapa perusahaan selular  yang bekerja sama dengan resto atau tempat hiburan  yang berani memberi diskon gede-gedean. Saya termasuk orang yang  pernah menikmati diskon tersebut, yakni ketika promosi  restoran all you can eat di kawasan kuningan yang memberikan paket promosi, 1 gratis satu. Ya, namanya gratis orang kita pasti tidak mau ketinggalan:).

Benang merah dari berbagai cara promosi yang dilakukan, saya ingin mengatakan syah-syah saja jika belum melanggar hukum dan etika kesopanan. Kuncinya terakhir ada di masyarakat yang menjadi juri  penilai yang memiliki kuasa penuh. Tidak memuaskan alias  mengecewakan, mereka siap hijrah ke operator lain.

Terus berjuang BAGI KOMUNIKASI LANCAR dan JELAS.

Salam

Jakarta, 19 Januari 2010