Membaca berita di detik.com ada tawuran di Kalibata menjadi miris hati juga. Kalibata yang dikenal  sebagai makam pahlawan, secara tidak langsung ternodai dengan kejadian ini. Apalagi menjelang peringatan hari pahlawan 10 November  nanti.  Belum jelas apa masalahnya, tertera dalam tulisan itu tawuran antara FBR dengan pemuda sekitar.  Ada unsur tuduh menuduh dan mendzolimi didalamnya.

Secara lokasi,  Kalibata Mall (KM) cukup strategis, terletak dijalan perlintasan selatan dan timur. Salah satu daya tarik Mall itu buat saya adalah karena lokasi tersebut. Beberapa kali saya singgah ke tempat itu setelah menempuh perjalanan dari depok sebelum sampai rumah di kawasan Tebet. Selain mencari  tempat makan, ada beberapa toko yang sering dikunjungi, termasuk Giant. Dulu, sebelum  direnovasi memang KM terlihat  sangat kumuh. Fasilitas penerangan yang minim, WC yang bau, hingga banyak genangan air selepas hujan yang bisa membuat orang celaka. Belum lagi banyak orang yang sekedar nongkrong-nongkrong, kumal dan menyeramkan.

Nah, adanya perubahan Mall tersebut menjadi Kalibata Mall, dulu kalibata plasa, cukup menyedot perhatian konsumen. Hypermarket Giant hadir, ada Jco, Solaria, Toko Buku (sekarang udah tutup), KFC yang modern, RiceBowl, home improvement,  bioskop, dll membuat lokasi lama kalibata yang berada disebelahnya mati alias kurang laku. Jika Anda kesana, akan menemukan pemandangan beberapa toko tutup, apalagi dibagian atas yang dulu sempat dijadikan food court.  Kini daya sedotnya hanya masjid besar yang ramai dikunjungi, karena memang satu-satunya  dan terdekat dilokasi tersebut.

Tak bisa dipungkiri, lokasi KM yang berada ditengah pemukiman penduduk membawa efek positif dan negatif bagi pengelola. Belum lagi lokasi dipersimpangan stasiun kereta, dimana tidak sedikit pengunjung dari daerah lain yang singgah sambil menunggu jadwal kereta yang diinginkan.  Disore hari atau diakhir pekan pengunjungnya bervariasi, namun jika dirata-rata berada dalam kelas menengah kebawah. Ya, meski disekitar lokasi ada perumahan dan bakal ada apartemen, melihat kenyataan yang ada, mereka juga akan berfikir datang ke tempat yang crowded dan kurang nyaman.

Kejadian bentrokan  kemarin, sebetulnya menjadi titik tolak pengelola mall untuk terus memperbaiki diri. Pertama adalah soal keamanaan. Dengan posisi ditengah pemukiman dan rumah penduduk serta lintasan lalu-lintas dan kereta, KM harus mendapat pengamanan yang ekstra. Bukan bermaksud Su’udzon. Mendengar beberapa cerita,   posisi menuju KM dibawah flyover sering terjadi tindak kejahatan, belum lagi disekitar Mall, meski aparat disediakan. Dan sepanjang pengamatan saya, pengamanan disana kurang dan tidak sebanding dengan luas lokasi yang diamankan. Petugas keamanan juga harus ditempat di depan dan dalam Mall sehingga akan menjadi “pejaga” bagi aksi kejahatan. Agar tidak terlihat mencolok, petugas bagian dalam bisa menggunakan pakaian preman/umum sehingga bagi pelaku kejahatan sulit mendeteksi keberadaannya.

Kedua,  mengurangi akses masuk lokasi. Hal ini akan mempermudah pengawasan aparat keamanan. Seperti di Mall kebanyakan, akses pintu masuk utama ditempatkan di depan, disediakan bagi mobil/motor dan pejalan kaki. Kemudian akses pintu masuk gedung juga dibatasi dan dijaga dengan ketat, jika perlu dengan alat deteksi.

Ketiga, fasilitas penerangan  yang dibenahi. Lokasi-lokasi menyempil dan rawan, bisa dipasangkan penerangan plus CCTV sehingga bisa memantau situasi dari kejauhan dan mendeteksi kejadian demi kejadian.

Keempat, kenyamanan didalam mall juga harus diperhatikan misalkan  terkait dengan kebersihan di sekitar toko dan kebersihan WC. Ini juga masih dijumpai hingga saat ini. Keran air yang mati, wc mampet, bau, dll.

Setelah merapikan sisi internal, pengelola bisa melakukan promosi keluar sebagai bentuk publikasi dan pencitraan. Selain akan menguntungkan dalam sisi peningkatan jumlah pengunjung, brand image Mall yang aman dan nyaman juga bisa diperoleh. Jangan segan-segan menyediakan venue bagi kreasi pengunjung seperti panggung bebas atau venue yang pas untuk promo produk/launching.  Terakhir, adalah perlu dicanangkan kegiatan yang dekat dengan CSR, kegiatan sosial yang  melibatkan warga, tokoh masyarakat sekitar dan memberikan kontribusi dan benefit bagi mereka. Bisa juga dengan kegiatan keagamaan, dengan ceramah dan majlis yang melibatkan tokoh terkenal.

Sebagai mana kredo yang ngetop dimasyarakat yakni, kita hanya pandai membuat dan tidak pandai merawatnya harus bisa dipatahkan.

Kejadian bantrokan memang tidak diinginkan, selain merugikan banyak pihak, juga akan menciderai image kalibata yang kini sedang dibangun. Ya, ada apartemen yang katanya bersubsidi sedang dibangun, ada perkantoran dan ruko yang terus bertumbuh, semoga kedepan lokasi ini menjadi aman dan nyaman. Amin

Salam

Tebet, 6 Nov 2009

lysthano