Penggunaan wanita dalam iklan kerap menjadi perdebatan, sekalipun iklannya ditujukan kepada konsumen wanita. Apa yang diperdebatkan? Banyak. Mulai dari cara berpakaian si bintang iklan, gaya berjalan, tatapan, lirikan mata hingga penggunaa suaranya yang seksi. Sejumlah milis iklan juga pernah ramai membahas iklan ini. Dari yang setuju dengan yang tidak setuju, seru!:)

Seorang praktisi mengatakan, bagaimanapun yang namanya iklan adalah bagaimana mempromosikan produk sebaik mungkin dan iklan yang ditampilkan “nancep” (tertanam) di ingatan dan hati pemirsa yang melihat (TV) atau pendengar (radio), termasuk tampilan (in print) dimedia cetak atau online. Pendapat tersebut sah-sah saja, apalagi kita cukup memaklumi masyarakat kita yang latah dan suka ikut-ikutan meniru gaya iklan.  Misalkan iklan salah satu operator seluler, yang menggunakan icon AGoeeesss…. setelah berhasil melakukan  telpon jarak jauh dan berbiaya murah. Seorang teman saya yang bernama Agoes (agus), kerap mendapat ledekan ini dari kawan-kawannya, bahkan menjadi bahan  becandaan anaknya :).

Dulu juga pernah ada iklan Kapsul ‘datang bulan” yang terkenal dengan kata ; Iyaaa..yaa.. yang dilakoni Lydia kandau dan kini diteruskan dengan anaknya. Ini baru iklan berdasarkan kata/ucapan. Belum lagi iklan yang menggunakan keseksian model iklannya. (minuman laki atau minuman sehat perempuan).

Urgensi sebuah iklan memang, bertujuan menanamkan sebuah icon iklan (model/ucapan-kata) kepada calon customer/pengguna produk. Namun,  upaya menyelaraskan  kebutuhan konsumen  dengan model iklan dan gayanya dalam iklan menjadi nilai penting. Artinya disini akan  bicara relevansi. Jangan sampai iklan yang dibuat tidak memiliki relevansi, antara target market dengan model iklan yang ditampilkan. Alasan sah-sah saja dan bisa dikaitkan belakangan, tentu bukan menjadi alasan yang pas untuk membuat iklan yang bagus.

Saya pernah mengusulkan kepada rekan yang minta masukan bahan iklan, mending membuat iklan yang berbau-bau humor saja,  ini pun dengan saran, hati-hati  ada yang tersinggung:) lagi-lagi, hati2 dengan nilai yang kadang menjadi subjectif padahal yang membuat sudah yakin ini obyektif…

regards