Minggu lalu tumben saya menyimak surat pembaca di harian terbesar di Indonesia, KOMPAS. Koran bertiras jutaan ini memang menjadi alat efektif untuk beriklan. Tidak heran banyak yang memanfaatkan media ini sebagai  medium promosi dari produk yang ingin lebih dikenalkan ke masyarakat. Bagi para pengiklan, harga pasang iklan yang mahal tidak menjadi masalah.

Namun yang menjadi perhatian saya saat itu adalah, adanya tulisan singkat  pembaca koran (masyarakat) yang komplain tentang sebuah produk X dan dimuat KOMPAS dalam rubrik surat pembaca. Menyimak isinya, pembaca melakukan protes dan perlakuan produk X atas pelayanannya  yang buruk. “Tone” dari surat pembaca tersebut sudah pasti “Negatif” untuk produk X tersebut. Saya kemudian membuka halaman-demi-halamam KOMPAS dan menemukan, iklan satu halaman full dan berwarna (full-Color) dari produk yang di komplain dalam rubrik surat pembaca.  Nah, kontradiktif sudah. Iklan satu halaman VS Surat Pembaca 🙂

So, bagi kita (tepatnya saya::)) yang rajin baca koran dan majalah, menyimak kejadian ini sembari bingung dan bertanya, mengapa ini bisa terjadi… ah mungkin ini kebetulan saja, ada surat pembaca negatif bertemu dengan iklan yang jelas positif. Namun sepanjang pengetahuan saya, komplain terhadap produk X ini memang cukup banyak. Bahkan seorang kawan via account twitternya mencela pelayanan produk X ini, tidak hanya itu kawan lain memasang  foto  dan status “kecewa” dengan pruduk ini.

Sayang memang, jika sebuah produk melakukan iklan gencar namun tidak memperhatikan respon calon konsumen. Bisa jadi yang ada diotak mereka adalah : pasang iklan-iklan dan iklan, tanpa melihat bagaimana responnya.

Ada baiknyya, perlu dilakukan pemantauan terhadap pola pemberitaan di media, kemudian menganalisa dan menjadikan hasilnya sebagai langkah mengatur strategi komunikasi yang apik. Sehingga modal beriklan yang Mahal itu sebanding dengan yang didapat. Ya, sudah pasti angka penjualan yang meningkat dan kepuasan yang diterima konsumen. [lyz]

 

Jakarta, 12 Nov 2012