Hari ini seorang temanku mengeluh perihal komitmen calon partner bisnisnya dibidang creative design. Menurut dia masalahnya simpel, “komit”. Bukannya apa-apa, keinginan  temanku ini menggandeng temannya yang baru lulus sekolah design tadinya dirasa tepat. Beberapa design sudah dibuktikan dan memiliki karakter yang kuat. Temanku ini berujar, beberapa kali diminta dibuatkan design yang bagus untuk order kaos rekannya.  Hasilnya OKE! Gaya design-nya Contemporary Art, dan kata teman ku gayanya populis cocok untuk  target anak muda. Keinginan temanku menggandengnya pasti beralasan, karena bagaimanapun juga dari owner harus mengerti design yang bagus.

Permintaan design yang kedua temanku merasa ada perubahan, gaya designnya menjadi tidak konsisten. wharakadah… Beberapa design yang dikirimnya tidak menunjukkan jadi dirinya sebagai designer  yang pertama kali temanku kenal. Gayanya menjadi old-fashioned dan kurang berkarakter alias mirip dengan kebanyakan design. Oh, mungkin ini hanya gaya rekaannya dia aja saat mengajukan tema design yang ada diotaknya, simpel dan artistik menurutnya.

Temanku yang pernah menjadi Art Director di sebuah Design Agency mencoba mengarahkan kembali gaya design calon mitra usahanya. Beberapa kali pertemuan digelar, sejumlah design dibahas dan dipenuhi dengan masukan-masukan sambil menunjukkan  sejumlah referensi. Hal ini, menurut temanku itu, dilakukan untuk mengembalikan kembali seni designnya yang unik dan berkarakter. Yaa, temanku ini paham betul dengan design. Beberapa kali dia melihat majalah design dan mencoba menanyakan kepada designya, gaya apa yang mempengaruhinya. Dan betul, apa yang ada diotal designer majalah tersebut sama dengan jawaban yang tersimpan dipikiran temanku.  Saya terkadang salut dengan dia, begitu maniac sekali dengan design. Beberapa kali jalan bersama kesebuah toko buku, buku design selalu menjadi oleh-olehnya ke rumah, meski harus menggesek kartu kreditnya. Beberapa majalah yang dia order dari Amazon juga memenuhi rak bukunya dikabar yang didesain sendiri.

Dia melanjutkan ceritanya pada bagian saat dia minta dibikinkan design untuk web calon klien usaha. Nah ini yang parah, dia kembali menjadi senewen dengan design webnya yang amburadul dan tidak jelas pagingnya. Pemilihan hurufnya juga aneh-aneh sehingga menjadi  lebih ramai dan tidak konsisten. “Waks, langsung saya komenin dia by email.” ujarnya. Sepertinya, temanku ini menyarankan agar dia lebih banyak lagi melihat referensi design sekaligus memaknai karakter banyak design yang dia buat. Akhir pembicaraan dengan saya dia mengatakan, akan menimbang-nimbang lagi mengajaknya untuk berpartner.

Oh, ya saya belum jelaskan tentang temanku ini. Dia memang memiliki background designer, namun kini dia lebih banyak menjalankan fungsinya sebagai marketing yang jualan produk yang dibuatnya. Katanya, dia bukan tidak konsisten. Ini hanya memanfaatkan peluang, mumpung masih banyak kenalan dan bisa mobile, dia mengambil peran sebagai penjual. Jika ada order yang masuk dia lebih baik menyerahkan kepada kawannya yang memiliki kemampuan design yang bagus (karena beberapa sudah mengirimkan portofolionya) dan dapat dipercaya.

Saya sepakat dengan komentarnya, ketika dia mengatakan temannya itu harus belajar banyak lagi tentang design, meski dia  jebolan sekolah design. Mengapa? karena menurutnya seorang designer harus memiliki karakter dalam karyanya. Jika general saja, dikhawatirkan mudah diikuti oleh para jebolan sekolah design yang memandang enak bakal profesinya karena dia sudah bisa design, padahal belum. Karena bagaimanapun, ketika bicara pasar, sebuah design akan bertarung kuat dipasaran. Bukan cuma masalah harga, namun juga hasil yang bagus dan “beda”. Inilah yang menjadi nilai jual profesi designer. Jika hanya bisa saja, menurut saya belum cukup. Saya khawatir orang yang berasa bisa, tapi sebetulnya belum, hanya menjadi seorang designer yang kini banyak dijumpai di mal-mal yang hanya berkegiatan mere-touch photo, padahal itu pekerjaa mudah yang bisa dikerjaan oleh siapapun  hanya dengan belajar dari buku.

So, temanku ini akhirnya memilih untuk pending alias menunda,  menjadikan bakal calon partner usahanya, dia kembali hunting designer dan hunting kerjaan… 🙂

jakarta, 2 april 2009