LYSTHANO.COM | All About Music

email: lysthano@gmail.com | twitter: @lysthano

Archive for the ‘MEDIA’ Category

Mengeja Media Digital

Oleh: Ignatius Haryanto

Walter J Ong, ahli komunikasi asal Irlandia, sezaman dengan Marshal McLuhan, menulis Orality and Literacy (The Technologizing of the Word), 1982, yang kini menjadi buku klasik.

Buku tersebut menggambarkan bahwa dunia keberaksaraan dan kelisanan sebenarnya muncul untuk saling mendukung. Munculnya keberaksaraan tidak serta-merta meniadakan kelisanan, bahkan dalam keberaksaraan akan memunculkan kelisanan “lapis dua” (secondary orality).

Dunia media digital saat ini ibarat kita sedang mengarungi suatu lautan literasi baru, di mana kita sekarang mungkin masih mengejanya. Dunia digital sudah dimulai satu-dua dekade lalu, dan pada saat yang sama tumbuh alat penerima komunikasi yang makin canggih. Alat komunikasi kita sekarang memungkinkan untuk tidak sekadar berkomunikasi lisan, tetapi juga berkomunikasi dengan tukar-menukar data, berkirim pesan tertulis, gambar, semua dalam jumlah besar. (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: KLIPING, MEDIA
  • Kegiatan intelijen Amerika Serikat yang selama ini tabu, kian digemakan Upaya untuk mengungkap dugaan kegiatan telik sandi AS terhadap sejumlah negara berlanjut setelah suara mantan anggota Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden, memanaskan telinga Pemerintah Abang Sam.

    Pekikan Snowden segera direspon sejumlah media massa. The Guardian, jawatan pers berpengaruh di Inggris, sampai-sampai harus menghadapi ancaman Perdana Menteri David Cameron setelah menyeruakkan sejumlah informasi yang berhasil dicuri Snowden dalam sejumlah laporan.

    Satu pekan lalu, Inggris –sekutu setia AS di bidang intelijen– menahan seorang jurnalis yang berpusat di Brasil dan bekerja untuk surat kabar London itu. Jurnalis yang bersangkutan, Green Grenwald, memimpin peliputan soal bocoran-bocoran rahasia intelijen oleh Snowden yang didapat dari David Miranda. (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: KLIPING, MEDIA
  • “Media seperti CNN atau The New York Times sekalipun, yang bagus sekali dalam meliput persoalan politik dan ekonomi, menjadi sangat buruk ketika memberitakan masalah agama.” Pernyataan ini merupakan bentuk keprihatinan Endy Bayuni, Editor Senior The Jakarta Post, menyikapi minimnya pemahaman para jurnalis di seluruh penjuru dunia ihwal agama. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kuliah Umum & Peluncuran Buku JURNALISME KEBERAGAMAN: Sebuah Panduan Peliputan yang digelar di Aula YLBHI, Jln. Diponegoro No. 74, Jakarta Rabu siang tadi, 8 Mei 2013, pukul 14.15 – 16.15 WIB. (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: KLIPING, LEPAS, MEDIA
  • Majalah Panji Masyarakat

    Panjimas Perdana Baru 150Penerbit: PT Lentera Abadi Makmur. Alamat Redaksi: Graha Anugerah, Lantai 7, Jalan Raya Pasar Minggu No. 17A, Jakarta 12780. Komisaris Utama: H. Noor Basha Djunaid. Direktur Utama: H. K. Achmadin. Direktur: H. Arsul Sani; H. Syu’bah Asa. Pemimpin Umum: Tryana Sjam’un. Pemimpin Perusahaan: K. Achmadin. Wakil Pemimpin Perusahaan: Arsul Sani. Pemimpin Redaksi: Syu’bah Asa. Wakil Pemimpin Redaksi: A. Suryana Sudrajat. Redaktur Pelaksana: Arahman Ma’mun. Sidang Redaksi: Agung Y. Achmad; Rifwan Hendri (redaktur); Aam Masroni; Akmal Stnazah; Ardi Winangun; Asih Arimurti; Saidi A. Xinnalecky. Koresponden: Imam Setyobudi (DI Yogyakarta & Jawa Tengah); Maifil Eka (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: KLIPING, MEDIA
  • Minggu lalu tumben saya menyimak surat pembaca di harian terbesar di Indonesia, KOMPAS. Koran bertiras jutaan ini memang menjadi alat efektif untuk beriklan. Tidak heran banyak yang memanfaatkan media ini sebagai  medium promosi dari produk yang ingin lebih dikenalkan ke masyarakat. Bagi para pengiklan, harga pasang iklan yang mahal tidak menjadi masalah.

    Namun yang menjadi perhatian saya saat itu adalah, adanya tulisan singkat  pembaca koran (masyarakat) yang komplain tentang sebuah produk X dan dimuat KOMPAS dalam rubrik surat pembaca. Menyimak isinya, pembaca melakukan protes dan perlakuan produk X atas pelayanannya  yang buruk. “Tone” dari surat pembaca tersebut sudah pasti “Negatif” untuk produk X tersebut. Saya kemudian membuka halaman-demi-halamam KOMPAS dan menemukan, iklan satu halaman full dan berwarna (full-Color) dari produk yang di komplain dalam rubrik surat pembaca.  Nah, kontradiktif sudah. Iklan satu halaman VS Surat Pembaca 🙂 (more…)

    Pers Modern dalam Topan Demokrasi

    oleh : Indra Jaya Piliang
    http://www.indrapiliang.com/2012/02/09/pers-modern-dalam-topan-demokrasi-/

    Hari ini diperingati sebagai Hari Pers Nasional yang ke-66. Tanggal ini ditandai, seiring dengan kelahiran organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta. Dalam usianya yang ke-66, pers nasional mengalami pasang-surut. Tidak saja berkaitan dengan masalah yang datang dari eksternal (seperti penyensoran), melainkan juga dari internal (seperti standar gaji dan kode etik jurnalistik). Terlepas dari itu, pers nasional menunjukkan diri sebagai salah satu eksponen perjuangan (kebebasan) politik dan demokrasi. (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: MEDIA
  • KOMPAS.com – Pernah dengar Yougho Evoucher, Bouncity, Superbestdeal.com, Sixreps, atau Project Eden? Ini adalah nama-nama situs yang diperkenalkan dalam temu komunitas #StartupLokal.

    Pertemuan di arena Indonesia International Communication Expo & Conference (ICC), Jakarta, Sabtu (11/6/2011) siang, itu dihadiri sekitar 100 orang. Natali Ardianto, pendiri #StartupLokal, mengenalkan situs-situs yang sebetulnya tak baru-baru amat tersebut.

    Sesuai dengan namanya, komunitas ini ditujukan untuk pemula bisnis di internet. Menurut Ollie, penulis yang juga pendiri #StartupLokal, komunitas ini untuk pendiri dan pengembang situs dan aplikasi konten, media, investor, serta mereka yang tertarik. Yang dibicarakan mulai dari keterampilan membangun komunitas, membuat rencana bisnis, hingga cara menjual situs. ”Calon investor akan lebih gampang melihat startup di komunitas ini daripada mencari sendiri,” katanya.

    Bisnis di internet semakin berkembang di Indonesia. Data Salingsilang.com menyebutkan, di Indonesia ada 30 juta-36 juta pengguna dan sangat aktif. Buktinya, anggota Facebook di Indonesia terbesar kedua di dunia. Periode Januari-Maret 2011 dihasilkan 5 juta blog dan 55 juta pengguna Twitter yang membuat 95 juta kicauan (tweet).

    Besarnya jumlah pengguna internet dan tingginya aktivitas menarik orang masuk ke bisnis ini.

    Koprol menjadi kisah sukses bakat lokal yang diakui dunia internasional. Setahun setelah diperkenalkan Skyeight, situs jejaring sosial ini pada Mei 2010 diakuisisi Yahoo!.

    Menurut Direktur Desain Yahoo! Koprol yang juga pendiri Koprol, Satya Witoelar, ketika membuat Koprol, dia tak terpikir situs itu akan dibeli pemain besar atau investor. ”Kami hanya ingin membuat produk online yang asyik banget,” ujar Satya tentang situs yang dipakai untuk mencari tempat-tempat menarik itu.

    Pengguna Koprol berkembang dari 75.000 pengguna saat diakuisisi hingga kini menjadi 1,5 juta orang. Mereka juga rajin bertatap muka (offline). Satya dan timnya lalu diminta Yahoo! mengembangkan program serupa untuk pasar baru di India, Filipina, dan Brasil.

    Februari lalu Yahoo! meluncurkan Koprol for Business. Layanan ini menawarkan solusi pemasaran berbasis wilayah untuk UKM agar mampu menyasar konsumen sesuai informasi lokasi.

    Investor lokal juga tak kalah sigap. Situs jejaring sosial Kaskus (singkatan dari kasak-kusuk) yang didirikan Andrew Darwis (31) tahun 1999 yang kini dikelola dan dimiliki bersama sepupunya, Ken Dean Lawadinata (25), Desember lalu bermitra dengan PT Global Digital Prima Venture. Yang terakhir ini dikelola Martin Basuki Hartono, anak Robert Budi Hartono, dari grup Djarum.

    Kaskus hingga petang kemarin memiliki 3.077.572 anggota, menjadikannya situs lokal dengan pengguna terbanyak. ”Saya tidak bisa sebut besar investasi Global Digital Prima. Dana itu kami gunakan untuk mengembangkan Kaskus, termasuk sistem pembayaran Kaspay,” kata Ken. Situs ini memiliki forum jual-beli perorangan yang sangat aktif dengan 400 komunitas dan subkomunitas.

    Jejaring media sosial juga memberi peluang hidup bagi situs spesifik, seperti Sepedaku.com yang didirikan Budi Santoso (38). Forum bertukar informasi di antara penggemar sepeda mengenai toko komponen sepeda tersebut memiliki 38.5000 anggota dan hidup dari iklan serta sponsor.

    Inkubator

    Global Digital Prima Venture tidak sendirian. Bakrie Telecom, awal pekan ini, meluncurkan Nusantara Incubation Fund. Shinta Dhanuwardoyo, mitra di Nusantara Ventures, mengatakan, yang dilakukan adalah menginkubasi situs, aplikasi, dan media generasi baru dengan memberi arahan, membukakan jejaring, dan membantu proses bisnis.

    Menurut Shinta, tantangan bagi pendiri serta pengembang situs dan konten adalah membuat rencana bisnis. ”Banyak yang lemah dalam rencana bisnis sesuai pasar. Intinya, tahu yang mereka kembangkan bisa bertahan tanpa berpikiran suatu saat bisa dijual,” kata Shinta yang juga CEO Bubu.com.

    Project Eden yang diperkenalkan dalam pertemuan komunitas #StartupLokal di ICC, pekan lalu, juga merupakan inkubasi bagi pendiri dan pengembang situs dan konten.

    Meski proyek ini baru akan diluncurkan Oktober 2011, Kevin Mintaraga sebagai salah satu penggagas yakin akan prospek e-commerce Indonesia. Indikatornya, antara lain, belanja iklan. Walau belanja iklan di internet baru 2 persen dari total belanja iklan di Indonesia, jumlahnya meningkat pesat.

    ”Tahun 2008 belanja iklan di internet Rp 100 miliar, tahun 2010 menjadi Rp 400 miliar, dan pada 2011 sudah Rp 800 miliar. Pertumbuhannya 200 persen, sementara media konvensional tumbuh paling-paling 10 persen,” kata Kevin. Nielsen mencatat belanja iklan di media televisi dan koran tahun 2010 hampir Rp 60 triliun, naik 23 persen dari 2009 (Kompas, 2/2).

    Lebih stabil

    Satya Witoelar, lulusan Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, yakin, antusiasme terhadap bisnis online tidak akan mengulang gelembung bisnis internet tahun 1990 karena model bisnisnya kini lebih berkelanjutan.

    ”Semakin banyak upaya mendukung startup semakin bagus. Sebab, semakin banyak yang mencoba, semakin banyak produk dihasilkan. Ini mendorong pengembang situs dan konten lebih serius membuat aplikasi yang bisa komersial,” kata Satya.

    Dengan jumlah penduduk 237 juta orang dan pendapatan terus meningkat, potensi bisnis di internet sangat besar. Namun, menurut Ken Lawadinata, karena infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi serta peraturannya belum jelas, investasi bisnis di internet di Indonesia, terutama oleh investor dari negara maju, dianggap masih hijau sehingga dihargai murah.

    Karena itu, kewajiban pemerintah membangun infrastruktur dan membuat aturan yang tidak mengekang kreativitas sehingga menjadi pemungkin terjadinya ledakan bisnis di internet. (DOT/HAR/GUN/NMP)

  • 0 Comments
  • Filed under: MEDIA
  • Bila Anda coba melakukan riset kecil-kecilan dengan meminta  komentar tentang  acara TVRI, mungkin akan ada komposisi jawaban senada, Acaranya Jadul dan kurang modern. Nah, kebetulan hari ini jajaran manajemen TVRI berkomentar tentang acara yang mereka siarkan selama ini. Lihat link : http://www.detiknews.com/read/2010/08/20/223743/1424694/10/ogah-disebut-jadul-tvri-akan-live-dari-mal-ke-mal?991102605

    Mereka mengakui bahwa sejumlah acara yang mereka bikin jaduls dan ketinggalan jaman. Oleh karena itu, manajemen mensiasati dengan acara live, yang disiarkan secara langsung dari tempat kejadian. Nah, yang menjadi langkah awal adalah dengan membuat acara live dari Mal-Ke-Mal.  Tidak hanya itu, mereka juga akan melakukan re-branding dengan produk-produk yang selama ini dihasilkan TVRI.  Pertanyaannya, apakah ini solusi untuk menciptakan citra baru televisi publik, yang kerap menjadi “corong” pemerintah dijaman orde baru. (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: MEDIA
  • Sejak lebih dari 6 bulan lalu saya selalu menerima email pemberitahuan dan informasi dari First Media aka PT First Media, Tbk.  Dengan informasi yang diberikan melalui surat via pos, perusahaan tersebut  menyebutkan akan mengalihkan model tagihan via kertas ke email.   Setelah mendaftar via email dengan menyebutkan kode pelanggan, nantinya setiap bulannya  akan dikirimkan tagihan via email. Namun, sejak mendaftar via email,  saya menerima dengan metode keduanya, email dan surat via pos. Belum jelas, kapan kira akan total beralih. Atau mungkin data yang sudah meregistrasi via email belum rapi, sehingga terkirim secara dobel, hingga bulan lalu (mungkin juga bulan ini:))

    Upaya mendukung program “go green be paperless” patut diacungi jempol, dan bisa dijadikan contoh oleh banyak perusahaan untuk melakukan hal ini. Namun yang masih mengganjal, apakah setiap pelanggan kini sudah melek internet semua. Yang dengan membuat email dan melakukan aktivasi, dan selalu ngeh ketika terima email sehingga informasi yang didapatkan bisa dibaca dan ditindaklanjuti. Pengalaman dua bulan lalu, tagihan Langganan saya malah sempat belum terbayar dan ditagih pada bulan berikutnya. Ternyata selidik punya selidik memang saya belum membayar, meski email sudah terkirim (saat itu saya tidak terima tagihan dalam bentuk kertas). Untungnya pihak FM tidak memutuskan sambungan TV langganan dan internet:) Jadilah saya terselamatkan. Beda dengan PLN atau PAM yang tidak bayar sebulan  sudah mendapatkan ancaman pemutusan… wuihhh galak ya mereka… (more…)

  • 0 Comments
  • Filed under: MEDIA
  • majalah kampus Pictures, Images and PhotosDiakui, tidak mudah untuk membuat majalah mahasiswa dan laku dibeli oleh konsumen. Apalagi tema tulisan yang dihadirkan  bersifat normatif dan sudah banyak diketahui umum.  Tidak itu saja, dalah hal desain,tampilan majalah juga kurang menarik termasuk spesiikasi yang digunakan, misalkan kertasnya terlampau tipis sehingga mudah sobe, desain dan warna covernya kurang menarik, dan lain sebagainya. Apakah ini berarti konsumen menuntut kesempuranaan kerja dari para pengelola yang notabene  mahasiswa juga. Boleh jadi demikian, karena jika konsumen ingin membeli sesuatu banyak pertimbangan. Dalam dunia kemahasiswaan apalagi pengeluaraan tersebut menjadi ekstra buat mereka shingga mengurangi biaya kongkow beberapa rupiah.  Dikalangan pengelola majalah kampus, dulu malah muncul celotehan beli 1 baca 4. Artinya yang membeli majalah satu orang, yang membaca 4. Bisa yang beli satu orang, dan atau mereka patungan untuk membeli majalah. (more…)

  • 2 Comments
  • Filed under: MEDIA
  • Categories

  • Recent Posts

  • Recent Comments

  • Archives

  • October 2017
    M T W T F S S
    « May    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • @lysthano

  • Strategic Partner

    banner-cinmi-gede

    Banner-MAXWEB-Band

  • Design: Partnership group. Theme: Sweetbox & Poker online casino.