barcode1Mempromosikan brand usaha melalui tulisan di badan mobil merupakan cara efektif memperkenalkan nama  usaha ke Publik. Namun, jangan salah, disamping kebermanfaatan itu ada amanah yang harus di emban, baik oleh pemilik dan  pengemudi mobil operasionla tersebut.

Bagi pemilik usaha, pasti sudah mengetahui tujuan dipajangnya nama usaha di badan mobil, namun bagi tenaga di lapangan, khususnya Driver, harus diberikan pemahaman bagaimana menjaga brand usaha yang sedang tersiarkan ke publik (ketika kendaraan dibawa berkeliling untuk melakukan tugas kerja).  Pasalnya sang Driver secara tidak langsung (ketika membawa mobil) berperan sebagai tenaga promosi  perusahaan. Untuk itulah, ada misi besar yang  harus dijalankan sang Driver untuk menjadi pengemudi yang baik di jalanan.

Ada pengalaman kurang menyenangkan yang baru saja saya alami terkait ini. Sebuah mobil berstikerkan besar sebuah usaha “Salon dan Spa” di bilangan Jakarta Timur nyaris membuat tabrakan beruntun. Sang Driver sangat terlihat ugal-ugalan saat membawa mobil dengan label usaha lengkap dengan alamat dan nomor telepon. Dengan serta-merta dia menyalip barisan mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan 70 km/jam. Ya, saya salah satunya yang berada dibarisan tersebut. Untung, saya menjaga jarak dengan dua mobil yang berada di depan. Dua mobil didepan berada dalam posisi yang membahayakan. Tampaknya dua pengemudi ini turut terprovokasi dengan mobil Salon dan Spa ini sehingga ingin mendahului.

Kejadian ini belum cukup sampai disini. Setelah dua mobil didepan saya berhasil melewati, giliran saya berada dibelakangnya. Seperti biasa, dia melakukan manuver berbahaya dengan salip kiri-kanan. Entah apa yang ada dibenak sang driver ugal-ugalan itu. Sudah pasti, dia tidak sadar bahwa disamping dia membawa misi berbahaya  bagi diri dan mobil perusahaannya, juga  menebarkan AROMA PROMOSI BURUK bagi usaha dimana dia bekerja.

Bagi saya yang melihat, tentu tidak langsung men-judge sopir ugal-ugalan sebagai representasi dari tempat usaha dimana Merek/Brand mereka lekat dengan mobil operasional. Namun dalam tataran normatif, image usahanya ikut  tercoreng. Bila saya berkesempatan bertemu dengan pemiliki usaha tersebut, saya akan laporkan  sikap tidak baik sang sopir. Patut dikasihani, jika karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena sikap buruk sang driver, imej usaha ikut menjadi buruk, meski pada akhirnya tidak semua driver tempat usaha ini bergaya sama.

So, pelajaran berharga dalam kejadian ini adalah bagaimana sebuah perusahaan mampu menyampaikan nilai-nilai universal tentang usahanya (termasuk visi-misi) kepada seluruh karyawannya. Dari Direktur hingga ke office boy harus mengaplikasikan nilai-nilai ini. Bahwa, pada diri mereka lekat dengan nama usahanya (dimana dia bekerja).

Brand Image  yang tampak hanya sebagai abstraksi usaha, ternyata membawa nilai penting bagi seluruh pergerakan usaha (bisnis dan layanan). Untuk itu ada beberapa poin penting terkait dengan brand image;

Pertama, Brand Image atau yang lebih dikenal dengan merek, memang sangat mudah untuk diciptakan, namun cukup sulit untuk menjaganya agar tampak selalu baik.

Kedua, Brand Image harus menjadi bagian terintegrasi dengan visi dan misi perusahaan, sehingga bagi karyawan, Brand Image usahanya menjadi sebuah nilai sakral yang harus dijaga, baik dalam perkataan dan pertindakan mereka ketika berada diluar lingkungan kantor.

Ketiga, Upaya membangun Brand Image membutuhkan modal yang tidak sedikit, sehingga ketika ada salah seorang karyawan memancarkan nilai negatif, maka nilai positif dan  prestasi usaha TERGERUSI dengan amat -sangat menuju tingkatan minus, atau bahkan kehancuran.

Semoga saja kejadian yang saya alami menjadi pelajaran berharga bagi pemilik  merek dan para pekerjanya.

30April 2009
lysthano
www.lysthano.com