Dominasi Mobile Phone BlackBerry  untuk  market Indonesia sepertinya akan tergerusi.  Lahirnya banyak Handphone dengan  “varian”  mirip bentuk BB dengan harga terjangkau cukup mencengangkan. Saat  acara pameran  pameran HP bertajuk ” Celullar Show 2009″  beberapa waktu lalu, pengunjung sempat tercengang menyaksikan antrian mengular di stand Nexian. Ya, Pabrikan HP  itu kini sedang ekspansif dalam market Indonesia. Sejumlah operator selular digandeng dengan iming-iming harga yang super miring, jauh lebih murah hingga lebih 5 kali lipat dibanding BB.

Dari waktu kewaktu, kompetitor HP gaul BB makin  banyak. Beberapa perusahaan sudah  meluncurkan produknya dengan menawarkan fasilitas yang dimiliki BB. Lalu apa sebetulnya yang ditawarkan BB kepada konsumen Indonesia. Sebetulnya simpel, melalui piranti ini, orang bisa tetap online meski mobile dari satu tempat ke tempat lain. Maraknya FaceBook yang menjangkiti masyarakat Indonesia turut membantu  meningkatnya angka penjualan HP sejuta umat ini.  Penggunanya bukan hanya kalangan pebisnis, namun mahasiswa dan pelajar SMP pun kini sudah (dengan PD) menenteng BB dan online meski di angkot.  “Gilanya” konsumen  Indonesia terhadap BB tentu saja menggiurkan sejumlah produsen HP untuk menawarkan, minimal model HP dengan fasilitas FB, Twitter dan fasilitas social networking lainnya dengan harga terjangkau.

Selain digerus oleh kompetitor yang semakin ekspansif, yang seolah-olah menantang dengan tag line, tanpa BB Anda bisa ber FB ria”, perusahaan ini juga sedang  menghadapi kendala makin banyaknya BB selundupan yang beredar. Seorang teman yang sedang riset BB di Indonesia mengatakan bahwa lebih dari 60 persen pengguna BB di Indonesia adalah mahasiswa, dan lebih dari 80 persen BB yang dimiliki adalah produk “suntikan”.

Akankah dengan dua hal diatas, yakni kompetitor dan produk suntikan, BB bisa berhasil dengan mulus mendongkrak angka penjualan dari waktu kewaktu? Dalam dunia bisnis, tidak ada yang abadi. Semua tergantung dari situasi dan prilaku konsumen. Situasi dengan persaingan yang ketat, baik fasilitas dan harga yang ditawarkan menjadi point tersendiri bagi konsumen. Dengan bentuk fisik yang sama (lebar) dari BB, kini produk HP sejenis juga sudah ada, mulai dari merek ternama, macam nokia juga merek yang baru masuk Indonesia.

Perilaku konsumen yang ingin “Gaya” namun dengan biaya murah, menjadi  prilaku konsumen dikebanyakan tempat. Tentu saja ini akan berpengaruh pada  harga yang ditawarkan. Dengan kasus antrian panjang dalam stand Nexian dengan produk NexianBerry-nya sudah menjadi pelajaran berharga bagi banyak produsen HP untuk sebisa mungkin “menggempur” market dikelas menengah kebawah.  Fasilitas online Andalan kini, FB plus Push Email sudah bisa difasilitasi oleh kebanyak HP model baru.

Ada beberapa strategi  yang harus dilakukan oleh sebuah produk dalam memberikan nilai keuntungan (benefit) bagi konsumen. Pertama adalah, tetap mepertahankan status posistioning brand, bahwa merek yang Anda usung memang berkelas dan beda dari kebanyakan produk baru yang seolah2 menjiplak kesuksesan produk Anda.  Tentu saja ada benefit lain yang bisa ditawakan, misalkan dengan fasilitas dan teknologi yang makin  lengkap, pelayanan service dan kemudahan mendapatkan produk Anda yang asli, tanpa dihantui akan ditipu dengan produk “bajakan”.

Kedua dengan melakukan campaign, bentuknya bisa campaign pengenalan “kembali” produk atau campaign tentang tema-tema yang menyentuh. Misalkan tolakbbsuntikan.com. Masyarakat diupayakan menjadi aware akan brand BB dan bagaimana cara aman dan gampang membeli produk ini.

Ketiga, dibutuhkan Public Relation yang handal dalam mengemas konsep promosi yang handal dan jitu agar  target market menjadi tertarik dan bangga  memiliki merek tersebut. Tidak kalah penting tugas PR adalah bagaimana menjadi penjaga gawang bagi Brand  yang ditugaskan untuk dijaga agar tetap terlihat kinclong. Tidak cukup itu, kampanye efektif dengan menggunakan media massa menjadi point tersendiri yang harus segera dilakukan.  Ada beberapa strategi  lain yang bisa dilakukan, namun belum bisa saya utarakan dalam tulisan singkat ini.

Kembali ke kasus BB.  Dengan brand yang sudah ternama, BB seperti harus kembali mengedukasi konsumennya sembari melakukan promosi dalam sebuah iklan yang baru saya lihat. Produk sekelas BB juga perlu beriklan, dan memang jangan berhenti beriklan. Tidak kalah penting, BB juga harus mulai melihat target marketnya sembari terus menerus memperbaiki diri dalam hal teknologi, kontent (isi) hingga model. Maklum lah,  kini siapa yang tidak bisa meniru,  kesuksesan  dalam penjualan harus rela dibagi dengan kemunculan produk yang serupa tapi tak sama.

So, welcome to the real market, Indonesia.
Please, do someting if You want to survive

jakarta 24 september 2009