Kesan apa yang biasanya mampir di benak kita jika mendengar nama Solo? mungkin orang akan banyak yang menjawab timlo, nasi liwet, batik Solo, keraton dan identitas – identitas kota Solo lainnya. Sama sekali tak muncul kata “rock” atau “metal” jika orang berpikir tentang Solo. Wajar, karena jika mengamati dinamika pergerakan musik rock di banyak kota di Indonesia dari tahun ke tahun, kiprah kota Solo memang terhitung jarang terdengar. Jika kota – kota lain sudah memulai pergerakan musik rocknya sejak tahun 60-70an dan punya banyak jagoan dalam kancah musik rock di Indonesia, Solo sepertinya kalem – kalem saja.

Tapi benarkah demikian? Lalu kenapa Solo banyak dibicarakan oleh para penggemar musik rock di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini? Siapa sajakah band – band yang berasal dari kota Solo? Apa itu Pasukan Babi Neraka? Berikut adalah catatan perjalanan scene musik rock di kota Solo dihimpun dari berbagai literatur dan obrolan dengan beberapa pelaku scene musik rock kota Solo.

60’s – 70’s era : It was all started in Manahan
Pada dekade 60an, di kawasan Manahan, Solo, muncul sekelompok anak muda gondrong yang sering berlatih main musik di dalam garasi sebuah rumah.  Musik yang dimainkan tergolong keras pada jaman itu. Dan berhubung mereka berlatihnya di sebuah garasi rumah (karena  saat itu belum dikenal adanya rental studio latihan di Solo) maka suara musik yang mereka mainkan pun bisa terdengar sampai ke jalanan di sekitar rumah mereka. Banyak orang yang kemudian berkerumun untuk menonton kelompok band beranggotakan lima personil ini berlatih. Orang – orang kemudian mengenal band dari Manahan ini dengan nama Taruna Cemerlang atau Terncem.  Dengan menggunakan alat musik yang sebagian merupakan buatan sendiri dan peralatan sound yang disetel sekeras mungkin setiap kali berlatih, Terncem menandai lahirnya scene musik rock di kota Solo pada penghujung dekade 60an dengan banyak memainkan karya – karya musisi rock barat masa itu macam Deep Purple, Jimi Hendrix, The Who dan Grand Funk Railroad. Band yang punya vokalis nyentrik bernama Bernard Parnadi ini kemudian merangsek menjadi salah satu band rock yang dikenal punya aksi panggung fenomenal dalam percaturan musik rock Indonesia pada akhir 60an hingga dekade 70an berbarengan dengan nama – nama tenar lain seperti  Giant step (Bandung), AKA (Surabaya) dan God Bless (Jakarta). Pada dekade 70an pamor band – band rock manca negara seperti Blue Cheer, Deep Purple, Led Zeppelin dan Black Sabbath memang sangat mendominasi yang pada akhirnya menginspirasi anak – anak muda di Indonesia untuk membentuk band – band rock sejenis.

Terncem yang pada awal 70an sudah mulai dikenal di luar kota kelahirannya pun tak mau kalah dengan koleganya di kota lain. Terncem dikenal dengan aksi panggungnya yang kerap menampilkan aksi teatrikal seperti membawa ular dan mengusung peti mati ke atas panggung atau bermain – main dengan api. Vokalis Bernard Parnadi pernah melakukan aksi membakar topi yang dipakainya. Terncem juga mulai melakukan rekaman pada tahun 1970 dan menghasilkan album pertamanya berjudul Deremaco. Lagu – lagu di album tersebut sangat kuat nuansa hardrocknya yang sebenarnya pada saat itu masih belum banyak pendengarnya di Indonesia. Meski demikian, album ini sempat melejitkan sebuah hit berjudul Jaman Edan. Sepanjang karirnya, Terncem merekam album sebanyak tiga kali hingga tahun 1975. Konser – konser band asal Solo ini selalu ramai. Konser mereka pada masa itu tidak hanya berkutat di pulau Jawa saja, mereka bahkan bergerak sampai  ke kota – kota di Sumatera.  Setiawan Djody pernah bergabung dengan Terncem dalam beberapa konser, namun ketika Terncem hendak merekam album perdananya, Setiawan Djody keluar karena harus pergi ke Amerika. Dalam setiap konser, vokalis Bernard Parnadi dikenal dengan teriakan khasnya yaitu : “ I’ll bring you…..FIRE!! “ setiap kali mengawali konser . Sesaat setelah Bernard berteriak, api akan menyala di panggung diikuti intro lagu “Fire” milik Arthur Brown yang biasa mereka gunakan sebagai opening song.

Memasuki akhir dekade 70an, Solo kembali memunculkan sebuah band rock yang cukup dikenal.  Namanya Destroyer. Band yang terbentuk pada pertengahan 70an ini gemar menggunakan mercon sebagai bagian aksi panggungnya. Mercon yang digunakan tidak tanggung – tanggung, sehingga sampai pernah membawa petaka. Sebuah catatan menyebutkan bahwa dalam sebuah pertunjukan pada tahun 1976, Destroyer pernah membawa sebuah lonceng besar berisi serbuk mercon yang akan dinyalakan pada saat mereka beraksi di panggung. Entah bagaimana ceritanya, serbuk mercon dalam lonceng itu meledak ketika para tehnisi tengah berusaha menghidupkan kembali peralatan di atas panggung yang basah oleh hujan yang turun sebelum pertunjukan. Lonceng berisi serbuk mercon itu pecah berantakan dan kepingannya melukai beberapa orang.

Selain Destroyer dan Terncem, pada tahun 70-an Solo juga punya satu lagi band rock lain yang cukup dikenal yaitu Yap Brothers. Band ini meski lebih populer sebagai band disko, namun perjalanan karir Yap Brothers juga tak lepas dari genre musik rock. Tak berbeda dengan Terncem, Yap Brothers juga banyak memainkan lagu – lagu band barat seperti Led Zeppelin dan Deep Purple. Band yang terdiri atas Chris Yaputranto , Indrianto Yaputranto, Eduardo Yaputranto, Iwan Yaputranto, dan Iwan Murjanto ini sempat menghasilkan beberapa album rekaman. Terncem dan Yap Brothers sering dianggap sebagai dua band yang krusial dalam perkembangan musik rock di kota Bengawan.

Era 60 dan 70an bisa dibilang merupakan era dimulainya perkembangan scene musik rock di kota Solo. Meski tak mampu melahirkan band – band yang long – lasting, namun keberadaan Terncem, Destroyer dan Yap Brothers cukup menunjukan bahwa Solo juga ikut bergerak bersama kota – kota lainnya dalam kancah musik rock di Indonesia pada era 60 dan 70an, meski ironisnya pada dekade 80an Solo justru agak melempem dalam melahirkan band – band rock yang berkualitas.

80’s era : The heat didn’t really disappear
Hiruk pikuk musik rock di kota Solo memang agak meredup pada era 80an, terutama pada awal hingga pertengahan 80an. Tak terlalu banyak band – band asal Solo yang berkiprah dengan pencapaian seperti para pendahulunya pada era 60 – 70an. Perubahan trend musik dunia yang cenderung mengarah ke disko dan pop pada dekade 80an sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan scene musik rock di Solo.

Baru pada akhir 80an, gairah rock kembali muncul di kota Solo. Adalah band – band seperti Magnum dan Spektrum yang awalnya hanya berkiprah di lingkungan kampus UNS namun kemudian bertransformasi menjadi band yang dikenal dengan nama Kaisar. Band ini menemui momentum terbesar dalam  karirnya ketika berhasil masuk 10 besar Festival Rock Indonesia ke V garapan Log Zhelebour pada tahun 1989. Singlenya yang berjudul Kerangka Langit menjadi salah satu andalan dalam album kompilasi 10 Finalis Festival Rock Indonesia V keluaran Logiss Record pada tahun 1990. Pada gelaran Festival Rock Indonesia berikutnya (tahun 1991), Kaisar akhirnya berhasil meraih juara pertama sekaligus sekali lagi berkesempatan merekam single mereka berikutnya yaitu Garis  – Garis Bintang dalam album kompilasi 10 Finalis Rock Indonesia VI.  Sebagai band rock yang pada akhir 80an dan awal 90an cukup dikenal di Indonesia, Kaisar pun sudah melakoni banyak pementasan di sekeliling nusantara bahkan ke Malaysia.

Pamor Kaisar menurun pada pertengahan 90an setelah mereka merilis full album pertama mereka yang berjudul Mulut Angin pada tahun 1994 yang ternyata kurang sukses. Kaisar kemudian menghilang hingga akhir 2000an dikarenakan mengalami vakum. Band yang pada masa jayanya dulu di perkuat oleh Didik (bass), Yudi (keyboard), Burhan (drum), Kecuk (gitar), Banasir (vocal) ini mencoba kembali berkiprah pada tahun 2008 lalu lewat rekaman berjudul Kaisar Cinta minus dua personil intinya yaitu Banasir dan Kecuk yang digantikan oleh gitaris dan vokalis lain. Namun kiprah mereka nampak kurang mendapat respon dari publik, kemungkinan karena pada dekade 2000an genre musik rock sudah berkembang lebih jauh dan dinamis, selain karena band – band baru yang lebih muda dan fresh juga mulai bermunculan di kota Solo sejak dekade 90an.

90’s era : The embryo of a massive movement
Pada awal 90-an ada dua band metal besar yang mampir di Indonesia yaitu Sepultura pada tahun 1992 dan Metallica pada 1993. Hadirnya dua band papan atas tersebut semakin mamicu naiknya pamor metal yang sebelumnya memang sudah mulai mewabah di kota – kota di Indonesia, termasuk Solo. Seiring dengan itu pula pergerakan scene musik rock di kota – kota besar utamanya di pulau Jawa mulai mengarah ke genre – genre seperti death metal, black metal, grincore, punk, hardcore dan genre – genre lainnya. Solo pun ikut berkembang dengan memunculkan band – band sejenis. Makam adalah salah satu band Solo yang terbentuk pada dekade 90an dan termasuk salah satu band yang awet hingga saat ini.
Makam yang terbentuk pada tahun 1995 menjadi salah satu band pionir genre black metal di Solo. Lirik lagu mereka yang kebanyakan bertemakan tentang kepercayaan Kedjawen dan paganisme menjadi salah satu trade mark band yang dikomandoi oleh vokalis Djiwo Ratriarkha ini. Semakin meluasnya pergerakan genre extreme metal di tanah Jawa pada 90an menjadi salah satu momentum dalam kiprah Makam. Band ini banyak tampil di acara – acara musik bertegangan tinggi seperti Jogja Brebeg di Yogyakarta yang memang sudah sering digelar sejak dekade 90an. Makam juga menjadi satu di antara sedikit band era 90an asal Solo yang sudah merilis album yaitu Hymns For Sacrificed Souls pada tahun 2007, meskipun album Hymns For Sacrificed Souls merupakan album split, di mana dalam album ini Makam berbagi cakram bersama Adokhsiny, sebuah band black metal asal Korea Selatan. Sebelum merekam album  split ini, sepanjang 1997 hingga 2006 Makam merilis demo – demo yaitu Sympathy For The Beast dan Makabre Amuletha.

Masih dari genre black metal, setelah Makam muncul satu band yang bernama Bandoso. Sama dengan Makam, Bandoso pun tampil dengan balutan musik black metal yang cukup kental, meski mengusung tema lirik yang agak berbeda dengan Makam. Bandoso lebih banyak bercerita tentang tema – tema kematian. Salah satu dokumentasi rekaman yang telah dibuat oleh Bandoso adalah sebuah extended play (EP) atau mini album berjudul Kegelapan Dalam Keabadian pada 2004. Bandoso juga pernah melepas sebuah album live berjudul Totally Destroy Manahan. Ini adalah album live yang direkam ketika mereka melakukan konser di Manahan pada 2007.

Pada dekade 90an pula genre punk mulai marak di Solo. Salah satu band yang lahir dari genre ini adalah Tendangan Badut. Tendangan Badut juga sudah merekam lagu – lagunya yang kemudian beredar di kalangan para penggemar dan komunitasnya. Lahirnya Tendangan Badut tak lepas dari munculnya komunitas punk yang biasa bermarkas di seputaran Sriwedari.

Selain ketiga band di atas, pada dekade 90an juga lahir band – band seperti Crywar, Torment, Eruption, Hellstorm dan Fatal Sickness, meski sebagian besar dari mereka masih belum mendokumentasikan karya dalam bentuk album. Kebanyakan baru merilis demo. Namun setidaknya hal ini menunjukkan bahwa  sejak pertengahan hingga menjelang akhir 90an scene rock/metal kota Solo mulai menunjukkan kegairahan baru dengan banyaknya band – band yang lahir serta semakin variatifnya genre yang bermunculan. Tapi ini hanya merupakan sebuah awal dari sebuah perkembangan besar yang akan muncul berikutnya dalam scene musik rock di kota yang terkenal dengan Pasar Klewernya ini.

2000 era : The decade of progess
Memasuki era millenium, band – band bergenre metal yang lahir di Solo semakin banyak. Salah satu band yang lahir pada dekade 2000an dan kemudin juga menjadi salah satu band yang menonjol dalam scene musik rock di Solo adalah Spirit Of Life. Pengusung panji Hardcore ini ikut meriuhkan scene musik rock Solo sejak tahun 2002 dan masih aktif hingga saat ini. Band ini menjadi salah satu band yang memiliki fans yang sangat loyal. Spirit of Life sudah merilis satu buah album berjudul Where There is Life,There is Hope pada tahun 2007. Pada 2009 mereka juga mengeluarkan sebuah demo berisi empat lagu yang salah satu lagunya masuk dalam kompilasi The Gank Is Back (2010), sebuah album kompilasi yang menampilkan band – band kota Solo.

Sebelumnya, pada tahun 2000 muncul sebuah band yang di kemudian hari dikenal dengan nama Down For Life. Mengusung genre metalcore, band ini merupakan gabungan personil dari beberapa band di antaranya adalah Apoticore dan Sabotage. Apoticore adalah band hardcore asal Solo sementara Sabotage adalah salah satu elemen hardcore kota Yogyakarta yang familiar pada tahun 90an. Meski sempat beberapa kali gonta – ganti personil, tapi band ini tetap bertahan dan mampu menarik perhatian publik kota Solo, utamanya para penggemar metal melalui penampilan – penampilan di atas panggung. Gaung nama Down For Life pun semakin meluas seiring makin seringnya mereka melakoni pentas demi pentas baik di kota – kota lain di seputaran Jawa Tengah dan beberapa kota lain di pulau Jawa.

Pada tahun 2008, setelah kurang lebih delapan tahun terbentuk, Down For Life melepas album pertamanya yang berjudul  “Simponi Kebisingan Babi Neraka”. Album ini mendapat respon yang baik dari publik metal kota Solo dan sekitarnya. Kiprah selama delapan tahun nampaknya memberikan dampak positif bagi distribusi album band yang bermarkas di daerah Kartopuran ini.  Dengan cepat albumnya sudah beredar di kalangan penggemar metal solo dan bahkan lagu – lagunya tersebar di banyak warnet di kota Solo. Album ini juga beredar di kota – kota lain di Indonesia utamanya di pulau Jawa. Kini Down For Life sedang mempersiapkan album keduanya yang akan diberi judul Simponi II : Himne Perang Akhir Pekan. Untuk itu, proses rekaman di sebuah studio di daerah Nologaten, Yogyakarta sedang dilakoni oleh kelima personil yaitu Stephanus Adjie, Rio Baskara, Moses Rizky, Ahmad ‘Jojo’ Azhari dan Wahyu ‘Uziel’ Jayadie.
Dekade 2000an juga menjadi dekade lahirnya band – band seperti Enforced, Never Again, Take And Awake, Lord Symphony dan yang terhitung bungsu, adalah Matius III:II yang terbentuk pada 2009. Band – band yang terbentuk pada era 2000 hampir semuanya telah memiliki album atau mini album yang kemudian didistribusikan meski dalam jumlah yang tak banyak. Mereka juga menunjukkan kualitasnya melalui konser dari panggung ke panggung. Sebuah hal yang wajib diacungi jempol mengingat di era digital saat ini kebanyakan band – band di Indonesia hanya merekam satu biji single yang kemudian diunggah ke internet lalu sesekali tampil di acara – acara musik dengan panggung kecil tapi dipenuhi oleh banyak orang dan kemudian berharap nama band mereka bisa ngetop.

Rock In Solo in Solo Rockin’ City
Era 2000an juga menjadi saksi lahirnya sebuah event pertunjukan rock/metal besar di kota Solo. Pada tahun 2004 beberapa individu yang terlibat di Down For Life mulai bergerak membentuk wadah event organizer untuk menggelar acara – acara musik rock atau metal di kota Solo. Hasilnya adalah sebuah event yang bernama Rock In Solo. Event yang awalnya hanya dimaksudkan untuk semakin meramaikan scene musik rock di Solo ini kemudian berkembang menjadi salah satu event musik rock yang cukup besar di pulau Jawa dan bahkan Indonesia.

Pada tahun – tahun awal penyelenggaraannya, para pengisi acara yang tampil masih berkutat pada band – band lokal baik yang berasal dari Solo maupun dari kota – kota lain. Sepanjang empat kali penyelenggaraan sebelumnya, Rock In Solo tercatat pernah menampilkan band – band seperti Burger Kill, Seringai, Tengkorak dan Death Vomit, selain tentu saja band – band Solo seperti Makam, Spirit of Life dan Down For Life.

Pada penyelanggaraannya yang ketiga tahun 2009 Rock In Solo mulai menampilkan band manca negara. Psycroptic, band death metal asal Australia didaulat menjadi band manca negara pertama yang bermain di gelaran Rock In Solo yang ketika itu diselenggarakan di GOR Manahan. Setelah itu pada gelaran keempat tahun 2010, giliran Dying Fetus,  trio death metal asal Maryland, Amerika Serikat, diboyong ke Solo dan sukses bermain di hadapan ribuan metalheads yang memadati stadion Sriwedari. Memasuki penyelenggaraannya yang kelima tahun ini yang akan diselenggarakan pada tanggal 17 September 2011, Rock In Solo menampilkan enam band manca negara dengan menampilkan headliner Death Angel, salah satu band thrash metal yang besar dalam scene Bay Area Thrash Metal San Francisco, Amerika Serikat. Rock In Solo 2011 juga akan menampilkan Kataklysm, jagoan death metal asal Montreal, Canada. Empat band lain yang juga akan tampil adalah Deranged asal Swedia, band yang pada awal 90an sering dianggap sebagai jawaban Swedia atas keberadaan Carcass (Inggris) dan Suffocation (Amerika Serikat). Dari Korea akan hadir Oathean yang berbau black metal dan Ishtar yang mengusung gothic metal. Sementara dari Perth, Australia, akan tampil band death metal Enforce.

Keberadaan Rock In Solo yang terhitung masih baru jika dibandingkan dengan saudara – saudaranya seperti Bandung Berisik atau Jogja Brebeg, menunjukkan bahwa episentrum musik rock di Indonesia tidak hanya berkutat di kota – kota besar saja. Tanpa mengecilkan peran event – event lain yang sejenis di Solo, Rock In Solo tak bisa dibantah lagi merupakan event pertunjukkan rock di kota Solo yang telah menaikkan gengsi kota Solo dalam scene musik rock di Indonesia saat ini dan merupakan salah satu event rock yang cukup dikenal dalam skala nasional.

Sepanjang tahun 2000 hingga saat ini, kota Solo mengalami sebuah progres dalam pergerakan scene musik rocknya. Banyaknya band – band yang lahir dan berkarya serta hadirnya event – event pertunjukan seperti Rock In Solo memberikan atmosfir yang mendukung perkembangan musik rock di Solo. Tapi bicara tentang scene musik rock kota Solo tentu tak hanya bicara tentang band – bandnya saja. Ada alasan lain kenapa kota ini muncul sebagai kota yang belakangan ini mengalami perkembangan scene musik rock yang cukup pesat.

The grass roots of metal movement.
Bicara tentang band tentu juga akan bicara tentang para penggemarnya. Sudah wajar jika keberadaan sebuah band pasti akan memunculkan orang – orang yang kemudian menjadi penggemarnya. Dalam perkembangannnya, orang – orang ini kemudian secara alami membentuk komunitas mereka sendiri. Bisa karena didasari kegemaran akan sebuah band, atau kegemaran akan sebuah genre tertentu. Ketika komunitasnya semakin membesar, mereka akan membelah diri menjadi kelompok – kelompok yang lebih kecil yang biasanya terpetak secara regional. Di Solo pun demikian.

Salah satu komunitas yang cukup besar di Solo adalah Pasukan Babi Neraka. Ini adalah komunitas yang pusat pusarannya terletak pada sosok Down For Life. Yup, Pasukan Babi Neraka adalah komunitas yang berkaitan dengan band yang dibentuk oleh vokalis Stephanus Adjie ini. Di dalamnya berkumpul orang – orang yang punya kepentingan dengan Down For Life, mulai dari para penggemar hingga para personilnya sendiri. Komunitas ini sangat mudah ditemui di kawasan Kartopuran, di sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai sebuah toko merchandise musik rock yang bernama Belukar Rockshop. Khusus untuk para penggemar, Pasukan Babi Neraka merupakan salah satu yang terbesar di Solo. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok, menyesuaikan dengan wilayahnya masing – masing seperti Pasukan Babi Neraka Salatiga, Pasukan Babi Neraka Karanganyar, Pasukan Babi Neraka Sukoharjo dan sebagainya. Mereka inilah yang selalu muncul dan berada di baris depan panggung tiap kali Down For Life tampil di sekitar kota Solo maupun di luar kota Solo.
Komunitas lain yang juga cukup dikenal di Solo adalah Solo City Hardcore (SCHC). Komunitas ini muncul pada awal tahun 2000an di daerah Pasar Nongko. Dari komunitas inilah kemudian lahir band – band seperti Spirit of Life dan Never Again. Dari yang sebelumnya hanya merupakan ajang kumpul- kumpul sekelompok kecil anak muda penggemar hardcore, SCHC kini berkembang semakin besar dan beberapa kali memprakarsai event – event rock/metal di Solo.

Penggemar punk di Solo juga memiliki komunitas sendiri yang bernama Sriwedari Boot Bois. Sesuai namanya, Sriwedari Boot Bois memang sering berkumpul di seputaran joglo Sriwedari. Komunitas ini melalui label bernama Semangat Djoeang Record pada tahun 2010 memprakarsai produksi sebuah album kompilasi lokal berjudul The Gank Is Back yang menampilkan band – band kota Solo. Sriwedari Boot Bois merupakan komunitas dari band – band seperti Tendangan Badut, Anti Regime dan The OrakArik.

Kecenderungan membentuk komunitas metal/rock juga sudah terlihat pada dekade 80an dan 90an. Pagars atau Paguyuban Rock Solo adalah sebuah komunitas penggemar rock di Solo yang terbentuk pada dekade 80an dan aktif hingga dekade 90an. Sementara pada 90an komunitas yang terbentuk semakin banyak. Pada dekade ini tercatat ada Paragon (Parade Rambut Gondrong) yang dulu sering ngumpul di seputaran pusat perbelanjaan Beteng Plaza. Ketika bangunan Beteng plaza ludes terbakar oleh kerusuhan Solo 98, keberadaan komunitas ini pun perlahan memudar.

Komunitas lain bernama Grinder Troops kemudian muncul pada tahun 1993. Komunitas ini bisa dibilang merupakan komunitas extreme metal yang pertama di kota Solo. Makam adalah salah satu band yang dekat dengan komunitas ini. Pada 10 tahun perayaan keberadaannya, Grinder Troops menggelar sebuah event konser bernama Parrhesia Soloense pada tahun 2003. Tak kurang dari Makam, Byzantium, Death infected, Crywar, Lamphor dan sebuah band death metal asal Jepang bernama Pukelization tampil dalam acara ini. Masih pada 90an juga, muncul komunitas bernama Nebula Corps Grinder yang bermarkas di sekitar Purwosari. Komunitas ini tak jauh beda dengan Grinder Troops. Kebanyakan band yang berada di bawah payung Nebula Corpse Grinder adalah band – band bergenre extreme metal seperti Maggots Collony, Torment dan Death Infected.

Kota – kota yang berada dalam wilayah eks-karesidenan Surakarta seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen, Sukoharjo dan Klaten juga sedikit banyak memberi pengaruh pada perkembangan scene rock/metal di Solo.  Komunitas – komunitas metal pun tumbuh marak di kota – kota ini. Karanganyar yang terletak di sebelah timur kotamadya Surakarta punya komunitas bernama Lawu Gods. Dari komunitas inilah muncul band seperti Lelembut yang kental black metalnya dan Dibal yang dekat dengan grindcore.

Sementara di Boyolali pada dekade 90an muncul komunitas bernama Deadly Sickness Radiation (DSR). DSR kemudian surut pada awal 2000an. Meski demikian komunitas metal Boyolali tak ikut terhenti pergerakannya. Setelah DSR, muncul komunitas baru bernama Bajang yang pada tahun 2003 menggelar sebuah acara metal bertajuk Sociality Total Sickness I yang baru pada 2010 lalu diselenggarakan kembali edisi keduanya.

Sragen pun tak mau kalah dengan memunculkan beberapa band dan komunitas metal. Wilayah yang dulunya bernama Sukowati ini punya komunitas bernama Sragen Corpse Grinder yang kemudian berubah menjadi Sragen Rock Movement. Beberapa band yang muncul dari Sragen adalah Total Scream, Defragment Otak, Keluarga Berengsek dan The All Prosthesis.

Selain Karanganyar, Boyolali dan Sragen, wilayah – wilayah lain yang mengelilingi kotamadya Surakarta juga tak lepas dari pergerakan para metalheads. Lamphor adalah band andalan Klaten dalam urusan black Metal. Selain Lamphor, Klaten juga punya Death Stumble yang memainkan death metal dan baru terbentuk pada 2009 lalu. Sementara di Sukoharjo muncul kelompok penggemar death metal bernama Sukoharjo Death Metal yang merupakan salah satu bagian dari forum besar Indonesian Death Metal (IDDM). Sukoharjo juga punya band – band seperti Intended Suicide dan Obor Setan yang dulunya bernama Gerandhong.

The media, the mayor and the stores
Tumbuh suburnya komunitas – komunitas dan band – band metal di wilayah Solo memang tak lepas dari atmosfir yang mendukung hal tersebut. Peran media adalah salah satu faktor yang penting dalam perkembangan scene musik rock di Solo. Beberapa media lokal Solo memang terhitung intens dalam mengangkat berita – berita atau acara – acara tentang musik rock/metal. Dulu pada tahun 90an, radio SAS FM yang memancar dari kawasan Solo Baru punya acara khusus musik rock bernama Burock atau Bursa lagu – lagu rock. Memasuki dekade 2000an program acara berbau metal bisa dengan mudah ditemui di Solo Radio FM. Solo Radio juga menjadi salah satu media partner dari gelaran Rock In Solo. Sementara di Klaten ada radio RWK FM yang cukup intens mengangkat program – program acara musik rock.

Kota Solo juga punya walikota yang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat Solo yaitu Joko Widodo. Kedekatan pria yang akrab disapa Jokowi ini boleh dibilang merata dengan semua kalangan masyarakat Solo termasuk dengan komunitas metal Solo. Konon kabarnya memang walikota yang telah dua kali terpilih ini punya hobi mendengarkan musik – musik cadas. Down For Life pernah tampil dalam sebuah sesi akustik di hadapan sang walikota dalam sebuah acara pada bulan Juni lalu. Jokowi juga berencana untuk ikut menonton Rock In Solo 2011 dan dikabarkan akan muncul dalam setidaknya dua film dokumenter tentang pergerakan scene musik rock kota Solo yang saat ini sedang diproduksi.

Satu faktor lain yang juga ikut memberikan suasana yang kondisional bagi perkembangan scene rock Solo adalah keberadaan toko – toko merchandise rock. Salah satu yang saat ini menjadi destinasi utama para metalheads yang ingin mencari merchandise musik rock di Solo adalah Belukar Rockshop yang terletak di sebuah ruas jalan bernama Pandu Dewanata di daerah Kartopuran. Di toko yang dikelola oleh Stephanus Adjie dan kawan – kawan ini bisa ditemui t-shirt – t-shirt band – band lokal maupun mancanegara, CD album band – band metal dalam dan luar negeri sampai aksesoris seperti topi, bandana, dompet, tas dan pin yang tentu saja semuanya berbau metal.

Let’s rawk in Solo!
Salah satu hal positif yang terjadi dalam scene musik Solo adalah kemauan para pelaku scene ini untuk berusaha memelihara kondisi yang mendukung bagi perkembangan musik rock di Solo. Perbedaan idealisme dalam memandang tujuan bermusik mungkin boleh berbeda satu sama lain, namun tidak harus menimbulkan benturan – benturan yang tak perlu. Maka hasilnya, Solo kini mulai menjelma menjadi kota yang mengangkat tinggi – tinggi musik cadas sebagai salah satu identitasnya, di luar identitas konvensional Solo yang selama ini sudah melekat pada kota ini seperti nasi liwet, Keraton Surakarta Hadiningrat, Pasar Klewer, Batik Solo, timlo dan sebagainya.

Keabsahan kota ini sebagai kota yang mengalami kemajuan pesat dalam pergerakan musik rock dan metal paling gampang bisa dilihat pada hajatan tahunan Rock In Solo. Ribuan metalheads dari berbagai kota di Indonesia tumpah ruah dalam sebuah venue besar, tanpa henti menikmati gempuran musik – musik cadas dari berbagai genre yang dibawakan oleh band – band metal berkelas, adalah sebuah pemandangan yang sebelumnya tak pernah muncul  di kota berpenduduk sekitar 500.000 jiwa ini.

Melihat kontinuitas yang ditunjukkannya, ajang Rock In Solo pun sangat mungkin akan menjadi agenda tahunan kota Solo yang punya kecenderungan untuk terus berkembang dan meningkat kualitasnya. Karena setidaknya, indikasi peningkatan kualitas gelaran Rock In Solo bisa dilihat dari semakin matangnya konsep penyelenggaraan event ini dari tahun ke tahun. Urusan panggung saja misalnya. Jika pada beberapa penyelenggaraan sebelumnya Rock In Solo hanya menampilkan satu panggung, maka pada tahun 2010 lalu festival metal ini mulai menggunakan dua buah panggung dan pada penyelenggaraan tahun ini, tak tanggung – tanggung, empat buah panggung akan didirikan di Alun – Alun Utara Solo yang menjadi tempat penyelanggaraan acara. Membayangkan ada empat buah panggung besar yang akan menampilkan band – band metal dalam dan luar negeri selama kurang lebih 12 jam berturut – turut memang cukup menjadi godaan bagi para metalheads untuk menghadiri Rock In Solo 2011. Tak heran jika tiket pre-sale yang dijual oleh pihak panitia sejak bulan Juli lalu telah ludes sekitar 4000 lembar dengan pembeli bukan hanya berasal dari Solo tapi juga dari kota – kota lain di Jawa bahkan Bali dan Sumatera.

Maka jika di Finlandia ada kota Oulu yang berpenduduk 140.000 jiwa dan punya festival metal Jalometalli (The Precious Metal) dan di Jerman ada kotamadya yang bahkan lebih kecil dan berpenduduk hanya 1.800 jiwa yang terkenal dengan festival metal besar Wacken Open Air, anak – anak muda di Solo pun menunjukkan bahwa Solo juga mampu menggelar acara semacam itu melalui Rock In Solo, tentu dengan kekhasan dan keunikan budaya lokal Solo yang tak mungkin disamai oleh festival – festival sejenis di tempat lain. Ambil contoh, Makan nasi liwet khas Solo sambil menikmati suguhan konser musik metal bisa menjadi pengalaman yang cukup unik, karena di antara sekian kios makanan yang akan didirikan di dalam venue acara, juga akan ada yang menjual nasi liwet dan makanan tradisional khas Solo lainnya  dalam Rock In Solo 2011 tahun ini.

Tujuan The ThinK Organizer, penyelenggara Rock In Solo yang ingin menyajikan festival metal yang tidak ingin menjadi seperti festival metal yang lain nampaknya sudah berada di jalurnya yang benar. Asal bisa berkelanjutan, serta kualitas bisa tetap terjaga bahkan kalau perlu ditingkatkan, Rock In Solo bisa menjadi event yang semakin besar lagi pada tahun – tahun mendatang yang tak hanya akan berpengaruh dan memberikan manfaat bagi perkembangan scene dan komunitas rock/metal di Solo saja tapi juga kepada pihak – pihak lain. Yah setidaknya para penjual makanan dan minuman yang tersebar di sekitar tempat acara pasti juga ikut mendapat keuntungan atau rejeki dari Rock In Solo. So, Let’s rawk in Solo! (Ariwan K Perdana. Twitter:@azraeldana) – tulisan pertama kali dilansir di www.indonesiantunes.com